Wednesday, 11 November 2015

Answer Me 1988 episode 1 - part 2




Kali ini nilai Sun Woo agak menurun jadi dia tidak berhasil dapat peringkat pertama. Saat dia hendak mengatakan siapa yang jadi juara pertama, ibunya Sun Woo tiba-tiba menyelanya karena dia memperhatikan dagunya Sun Woo diperban. Ibunya Sun Woo langsung curiga, apa Sun Woo terluka karena berkelahi? Sun Woo menyangkalnya tapi dia terlihat canggung seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Anehnya lagi, dia langsung cepat-cepat masuk rumah untuk menghindar.


Ibunya Sun Woo jadi cemas dan takut kalau Sun Woo salah gaul atau mungkin dibully anak-anak jahat di sekolah tapi kedua ibu yang lain berusaha menenangkannya dan meyakinkannya untuk tidak cemas karena Sun Woo kan anak yang baik dan selalu memberitahu segala hal pada ibunya.



Tak lama kemudian, Dong Ryong dan Jung Hwan pulang. Berbeda dengan Sun Woo, Jung Hwan hanya menyapa mereka dengan tundukan kepala singkat dan langsung masuk rumah dengan cuek. Ibunya jelas kecewa. Melihat itu, ibunya Duk Sun langsung berkomentar kalau anak perempuan itu jauh lebih baik daripada anak cowok, walaupun Duk Sun berada di peringkat 999 tapi tetap saja dia jauh lebih baik daripada anak cowok.



Saat Duk Sun pulang, dia mendapati ayahnya dan adiknya bukannya langsung pulang malah asyik nongkrong di depan sebuah toko dan menikmati es krim. Sekarang dia tahu kenapa adiknya selalu keluar menjemput ayahnya, ternyata mereka makan es krim disini tiap hari secara diam-diam. Kesal, Duk Sun langsung menuntut Ayah untuk membelikannya es krim juga.



Ayah akhirnya membelikannya es krim ukuran besar dan menyuruhnya untuk memakannya bersama Ibu dan Bo Ra. Tapi saat Ayah mau pulang, No Eul memberitahunya kalau para ahjumma sedang berkumpul di luar rumah. Ayah akhirnya berubah pikiran dan memutuskan untuk makan malam disitu saja.



Di rumahnya Sun Woo, ibunya Sun Woo sakit gigi lagi. Sun Woo berusaha membujuk ibunya untuk pergi ke dokter saja tapi ibunya Sun Woo lebih mencemaskan masalah luka di dagunya Sun Woo dan terus menanyakan apa yang terjadi sampai dia terluka seperti itu. Tapi Sun Woo tetap tidak mau menjelaskan, malah langsung menghindar ke rumah Jung Hwan.



Jung Hwan hampir jantungan saat tiba-tiba dia melihat Duk Sun berkeliaran didepan rumahnya dengan memakai Hanbok warna putih kayak hantu. Ternyata Hanbok warna putih itu adalah kostum yang akan dia gunakan dalam acara pembukaan olimpiade nanti. Duk Sun tanya apa dia cantik, Jung Hwan bilang tidak.



Sun Woo datang tak lama kemudian dan sama seperti Jung Hwan, dia juga hampir jantungan melihat Duk Sun yang kayak hantu. Duk Sun tanya apa dia cantik, Sun Woo bilang enggak. Duk Sun makin sedih saat Dong Ryong juga marah-marah gara-gara kaget melihat Duk Sun kayak hantu.



Selama beberapa hari kemudian, Duk Sun latihan terus di stadium setiap hari sementara para ibu selalu berkumpul di luar rumah sambil melakukan berbagai hal, mengkeriting rambut mereka sambil menyortir ikan teri atau minum bir. Sun Woo datang tak lama kemudian dan langsung memijat kaki ibunya. Sementara Jung Hwan sama seperti biasanya, hanya menyapa ibunya dengan tundukan kepala singkat lalu cepat-cepat masuk rumah. Ibunya hanya bisa mendesah kecewa.



Suatu hari, para ibu berkumpul membuat dumpling dalam jumlah sangat banyak. Ibunya Sun Woo masih mencemaskan luka di dagunya Sun Woo apalagi Sun Woo masih saja belum mau memberitahu kenapa dia bisa sampai terluka. Ternyata dumpling sebanyak itu untuk memperingati hari kematian ayahnya Sun Woo yang dulu sangat amat menyukai dumpling.

Duk Sun dan Sun Woo ternyata berulang tahun pada hari yang sama. Ibunya Duk Sun penasaran, hadiah apa yang akan ibunya Sun Woo belikan untuk Sun Woo nanti. Ibunya Sun Woo mengaku kalau dia masih bingung. Ibunya Jung Hwan langsung ikut mendesah bingung karena dia juga tidak tahu hadiah apa yang harus dia hadiahkan pada anak cowok yang sudah beranjak dewasa.

"Belikan saja dia sepatu sneaker baru" ujar ibunya Sun Woo. Tapi begitu melihat wajah kebingungan ibunya Jung Hwan, ibunya Sun Woo langsung tahu kalau ibunya Jung Hwan pasti tidak tahu kalau anaknya dirampok beberapa hari yang lalu. Saat Jung Hwan datang, saat itulah ibunya akhirnya mulai menyadari kalau Jung Hwan memakai sepatu butut.



Ibunya Jung Hwan jadi gelisah menyadari dia benar-benar tidak tahu apapun tentang anaknya. Saat mereka berkumpul di meja makan, dia berusaha menanyai Jung Hwan apakah belakangan ini terjadi sesuatu. Tapi Jung Hwan langsung menyangkalnya. Ayahnya Jung Hwan pulang saat itu juga dan seperti biasanya dia langsung menyapa istrinya dengan candaan tapi istrinya yang sedang tidak mood, langsung emosi dan mengancam mau cerai.



Ayahnya Jung Hwan lalu keluar untuk mengantarkan ayam goreng untuk keluarga Sung. Dia melihat Duk Sun sedang latihan dengan papan namanya di luar dan langsung menyapa Duk Sun dengan guyonannya. Dan ternyata, dari semua orang yang tidak pernah tertawa dengan candaan ayahnya Jung Hwan, hanya Duk Sun satu-satunya orang yang bisa meladeni candaannya dan menganggapnya lucu. Setelah saling menyapa dengan gaya aneh mereka, ayahnya Jung Hwan memberinya sebungkus ayam goreng untuk Duk Sun. Ayahnya Jung Hwan berkata kalau ayam itu untuk Duk Sun seorang.



Tapi saat seluruh anggota keluarga Sung berkumpul bersama menonton berita olimpiade di TV, mereka sama-sama ikut menikmati ayam goreng itu. Duk Sun sedih melihat ibunya memberikan kedua paha ayam pada Bo Ra dan No Eul tapi dia tidak protes dan akhirnya mengalah dengan memakan bagian sayap.



Mereka melihat salah satu pembawa bendera sedang diwawancara di TV. No Eul heran kenapa Duk Sun tidak diwawancara di TV juga, Bo Ra seperti biasanya langsung merendahkan Duk Sun. Saat Duk Sun berkata kalau dia akan diwawancara besok, Bo Ra langsung menuduhnya pembohong (dengan bahasa kasar). Jelas saja kakak beradik itu akhirnya langsung perang jambak-jambakan lagi.



3 hari menjelang olimpiade, Duk Sun dipanggil untuk wawancara di TV. Dia menjawab semua pertanyaan dengan cukup lancar  sampai saat pewawancara memberitahunya kalau kemarin Madagascar mengumumkan kalau mereka mengundurkan diri dari olimpiade (Madagascar diboikot karena mereka punya hubungan dengan Korut). Duk Sun langsung shock berat sampai menangis.

Saat pewawancara memintanya untuk mengatakan sesuatu, Duk Sun dengan mata berkaca-kaca berkata bahwa walaupun dia tidak bisa ikut berpartisipasi dalam olimpiade tahun ini tapi dia akan mendukung dan mendoakan semoga olimpiade tahun ini akan sukses.



Ibunya Sun Woo kehabisan minyak. Dia memanggil Sun Woo untuk menyuruh Sun Woo keluar beli minyak. Tapi anehnya, Sun Woo tidak menjawab panggilannya. Ibunya langsung membuka kamarnya Sun Woo tapi ternyata Sun Woo tidak ada, adiknya Sun Woo memberitahunya kalau Sun Woo keluar tadi.

Ibunya Sun Woo yang sudah cemas sejak beberapa hari yang lalu, jadi semakin sedih menyadari anaknya keluar tanpa memberitahunya. Ia pun langsung melihat-lihat isi kamar Sun Woo untuk mencari suatu petunjuk... sampai akhirnya dia menemukan sebungkus rokok di bawah meja belajarnya. Ibu langsung shock.



Duk Sun pulang dengan sedih, dia bahkan tidak bersemangat saat mereka mulai merayakan ultahnya Bo Ra. Setelah Bo Ra meniup semua lilinnya, ayah dan ibu langsung menyalakannya lagi. Kali ini untuk merayakan ultahnya Duk Sun. Tapi Duk Sun yang sedari tadi berusaha keras menahan emosinya, akhirnya langsung meledak.



Dia menangis dan berteriak mengingatkan mereka kalau dia tidak mau merayakan ultah bareng unni-nya. Dia tidak mengerti kenapa ayah dan ibu tidak pernah mendengarkan keinginannya, kenapa mereka memperlakukannya seperti ini. Dia sangat menyukai telur goreng tapi ibu tidak pernah membuatkannya. Ayam goreng pemberian ayahnya Jung Hwan sebenarnya untuknya seorang tapi ibu malah memberikan semua paha ayamnya pada Bo Ra dan No Eul. Kedua saudaranya punya nama-nama yang bagus tapi kenapa hanya dia seorang yang punya nama jelek.



Duk Sun keluar rumah dengan tangis sedih sementara kedua orang tuanya hanya diam penuh rasa bersalah. Mereka baru menyadari kemarahan Duk Sun saat TV mulai memberitakan tentang pengunduran diri Madagascar dari olimpiade.

"Hari itu bukanlah hari yang spesial. Lagipula, susahnya jadi anak kedua memang selalu seperti ini" narasi Duk Sun di masa depan. Sebagai anak tengah, dia selalu mengalah demi kakak dan adiknya. Dia selalu berharap kedua orang tuanya akan menyadari semua pengorbanannya, tapi ternyata tidak "Dalam beberapa hal, keluarga adalah yang paling tidak sadar"



Begitu Sun Woo pulang, ibu langsung mengkonfrontasinya dan menuduhnya merokok. Sun Woo langsung menyangkalnya. Ibu tidak percaya dan terus menuntut kebenarannya, apa yang sebenarnya Sun Woo lakukan belakangan ini? apa Sun Woo sekarang suka membuat masalah? ibu sangat kecewa pada Sun Woo setelah selama ini berusaha keras membesarkannya dengan susah payah, sekarang Sun Woo malah bergaul dengan anak-anak nakal dan merokok.

Sun Woo terus bersumpah kalau dia sama sekali tidak merokok dan rokok yang ibu temukan itu sama sekali bukan miliknya. Tapi ibu tetap tidak percaya dan sekali lagi menuntut penjelasan tentang asal usul luka di dagunya Sun Woo, ibu masih yakin kalau luka itu pasti gara-gara Sun Woo berkelahi.

"Apa kau bersikap seperti ini karena ayahmu tidak ada? Apa kau tidak mempedulikan ibumu sama sekali?"

"Ibu! Ini... ini terjadi saat aku mencoba bercukur. Aku melukai diriku sendiri saat aku mencoba cukuran" Sun Woo akhirnya mengaku.



Mendengar itu, ibu langsung menangis sedih dan meminta maaf. Sun Woo langsung memeluknya dan berusaha menenangkannya dengan memberitahunya kalau semua temannya juga melukai diri mereka sendiri saat mereka mencoba cukuran untuk yang pertama kalinya.


 
Ibu menangis makin sedih saat Sun Woo dan adiknya mulai memberikan penghormatan pada mendiang ayah mereka dan menuang makgeolli kesukaan ayah mereka.



17 september 1988...

Olimpiade ke-24 pun akhirnya dimulai. Keluarga Sung berkumpul didepan TV menyaksikan acara pembukaan olimpiade... karena ternyata Duk Sun tetap ikut dalam acara pembukaan sebagai pembawa bendera negara Uganda.

Ayah, ibu dan No Eul duduk didepan TV dengan antusias. Hanya Bo Ra yang bersikeras emngurung diri di kamar dan tidak mau nonton... padahal diam-diam dia mendengarkan dengan antusias dari dalam kamar. awww... unni ^^



Saat Duk Sun akhirnya muncul di TV, mereka semua langsung bersorak, ayah bahkan langsung menangis penuh haru. Sun Woo dan keluarganya juga langsung bersorak bangga melihat Duk Sun muncul di TV.



Keluarganya Jung Hwan yang punya berbagai peralatan mewah, merekam momen-momen kemunculan Duk Sun. Ayah, ibu dan kakaknya Jung Hwan langsung bangkit dan bersorak saat Duk Sun akhirnya muncul di TV. Hanya Jung Hwan satu-satunya yang cuek seperti biasa... padahal diam-diam dia tersenyum juga.



Ibunya Jung Hwan terus berusaha mengajak Jung Hwan ngobrol tapi Jung Hwan mencuekinya terus. Saat Jung Hwan masuk kamarnya, ibunya langsung ikut dan terus berusaha mengajaknya ngobrol. Dia bertanya Jung Hwan sedang apa. Jung Hwan menjawab singkat kalau dia sedang belajar. Ibu lalu menanyakan tentang ujiannya dan Jung Hwan hanya menjawabnya dengan jawaban-jawaban singkat sampai akhirnya dia memberitahu ibu kalau dia dapat peringkat pertama.



"Tapi kenapa kau tidak memberitahuku?"

"Itu bukan apa-apa"

"Tapi ibumu ini ingin tahu segalanya. Beritahu aku tentang hal-hal seperti ini. Apa kau tahu betapa irinya ibu pada ibunya Sun Woo? Sun Woo memberitahu ibunya tentang segala hal. Walaupun kau tidak mau memberitahu segalanya pada ibu, setidaknya beritahu apa yang kau pikirkan, itupun sudah cukup bagus. Ibu sangat malu setiap kali bergaul dengan para ahjumma, mengerti? jawab ibu"

"Iya, bu"



Mendengar itu, ibu langsung menghadiahinya dengan pelukan singkat dan canggung. Saat ibu hendak keluar, Jung Hwan langsung memanggilnya lalu meminta ibunya untuk membelikannya sepatu sneaker baru. Ibu langsung terharu mendengar request-nya Jung Hwan. Sooo... apakah hubungan Jung Hwan dan ibunya mulai membaik sejak saat itu?



Hmm... kayaknya sama aja deh. Keesokan harinya, ibunya Jung Hwan dengan sangat antusias mengajak Jung Hwan untuk belanja sepatu sneaker baru hari ini tapi Jung Hwan malah menolak dan minta uangnya saja.



Ibunya Sun Woo masih penasaran rokok itu milik siapa. Dia curiga kalau rokok itu milik Jung Hwan tapi Sun Woo meyakinkannya kalau Jung Hwan tidak merokok. Jadi kalau begitu, rokok itu milik siapa?...



Hmm... jawabannya ternyata ada di flashback. Malam itu saat para ibu-ibu sedang ngumpul, adiknya Sun Woo membawa lari cardigan milik ibunya Jung Hwan yang kemudian dia pakai main-main di kamarnya Sun Woo. Dari saku cardigan ibunya Jung Hwan itulah, rokok itu terjatuh dan adiknya Sun Woo langsung membuangnya ke bawah meja.



Sun Woo kedatangan tamu yaitu pamannya yang tiba-tiba mengajaknya ke sauna. Oh, ternyata pamannya mengajak Sun Woo ke sauna atas suruhan ibu yang meminta paman untuk mengajari Sun Woo cara cukuran yang benar.



Malam harinya, Duk Sun pulang dengan langkah ceria. Tapi sesampainya di gang, dia mendapati ayahnya sedang menunggunya didepan rumah. Mereka kemudian duduk di depan toko dimana Duk Sun memperlihatkan berbagai macam barang yang didapatnya dari acara olimpiade tadi... dan juga 2 burung mati yang rencananya mau dia kubur. Aneh banget... tapi Ayah bangga dengan kebaikan hati Duk Sun.



Ayah berkata kalau dia juga punya sesuatu untuk Duk Sun. Dia masuk ke toko sebentar... lalu keluar dengan membawa kue ultah khusus untuk Duk Sun "Selamat ulang tahun, Duk Sun ku"



Duk Sun sangat terharu melihatnya. Ayah memberitahu Duk Sun bahwa dia dan Ibu benar-benar minta maaf "Ini karena kami tidak tahu. Saat unni mu lahir, kami cemas bagaimana harus mendidiknya. Saat kau lahir, kami cemas bagaimana harus membesarkanmu. Saat dongsaeng mu lahir, kami cemas bagaimana cara membentuknya jadi orang benar. Ayah tidak langsung jadi ayah saat ayah lahir, ini juga pertama kalinya ayah jadi seorang ayah. Jadi ayah berharap kau akan melepaskan ayah, sekali ini saja. Putriku tumbuh jadi sangat cantik"

Ayah bertanya-tanya seperti apa hidupnya kelak kalau Duk Sun menikah nanti, pasti dia akan sangat sengsara. Duk Sun berkata kalau dia tidak akan menikah. Ayah langsung mengomelinya untuk tidak berkata seperti itu.



Mereka lalu menyalakan lilin ultahnya, Ayah mengucapkan selamat ulang tahun untuknya dan Duk Sun pun langsung meniup lilinnya dengan penuh haru.



Setelah itu, Duk Sun dan Ayah pulang bergandengan tangan.

"Terkadang, keluarga adalah yang paling tidak tahu. Tapi... apa gunanya tahu? Pada akhirnya yang membuatmu mengatasi semua masalah bukanlah otak tapi seseorang yang menggenggam tanganmu dan tidak akan pernah melepaskannya... dia adalah keluarga. Bahkan bagi para pahlawan, tempat mereka pulang adalah keluarga" narasi Duk Sun



Akan tetapi satu bulan kemudian... Duk Sun bercerita bahwa sejarah terulang kembali. Malam itu, keluarga Sung sedang tidur nyenyak saat tiba-tiba saja Ayah terbangun dan langsung mengerang kesakitan. Saat dia sadar sepenuhnya, dia melihat rumah berasap dan akhirnya dia menyadari apa yang terjadi. Dia keracunan karbon monoksida dari briket batu bara (untuk menghangatkan rumah).



Panik, Ayah langsung membangunkan semua orang. Ayah dan Ibu langsung menggotong Bo Ra dan No Eul keluar. Mereka menenangkan diri selama sesaat... sebelum akhirnya mereka baru sadar kalau mereka belum mengeluarkan Duk Sun. Waduh!...



Untunglah Duk Sun terbangun dengan sendirinya dan berusaha keras merangkak keluar untuk menyelamatkan dirinya sendiri.



November 2015...

Duk Sun dewasa sedang diwawancara dimana dia ditanya kapan dia pertama kali bertemu... suaminya. Dia berkata kalau dia dan suaminya tumbuh bersama di lingkungan yang sama tapi dia tidak pernah menyangka kalau dia akan menikah dengannya. Duk Sun dewasa menduga mungkin dia jadi gila atau semacamnya gara-gara dulu dia pernah menghirup karbon monoksida dalam jumlah sangat banyak.


Answer Me 1988 episode 1 - part 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Siti Mar'atun Choiriyah

0 comments:

Post a Comment