Wednesday, 11 November 2015

Sinopsis Because It’s The First Time Episode 3

 Bab 7 – Kenapa Bukan Aku? 



Song Yi jelas bingung mendengar ucapan Tae Oh. Tapi ternyata Tae Oh maksudnya lain. Ia malah mengejek Song Yi, ingin tau apa yang akan dilakukan Song Yi untuk membuat ia tergila-gila pada Song Yi. Tae Oh mengeluhkan baju yang dipakai Song Yi bertahun-tahun dan juga wajah Song Yi yang membuatnya tidak tertarik. Ia tidak mengharapkan Song Yi akan bersikap seksi padanya tapi paling tidak Song Yi seharusnya bersikap seperti seorang gadis di hadapannya.

Song Yi mengatai Tae Oh sudah gila, si kunyuk gila. Tae Oh menyuruh Song Yi bicara yang cantik padanya, sedikit memalingkan wajah, mengdipkan mata dan tersenyum, begitulah seharusnya menggoda seorang pria. Song Yi mengatakan ia juga melakukan itu tapi di depan orang yang ia sukai…

“Tepat sekali! Jadi lakukan itu di depanku!”, sahut Tae Oh yang lama kelamaan jadi kesal.

“Kenapa?”, Song Yi bingung.



“Karena kau bilang kau suka padaku”, sahut Tae Oh. Tae Oh mengeluhkan kenapa Song Yi bisa datang ke tempatnya dengan berpakaian seperti ini. Song Yi memandang kesal pada Tae Oh. Tae Oh meminta maaf karena marah-marah pada Song Yi. Tapi itu karena Song Yi menyukainya jadi ia ingin bisa menyukai Song Yi juga. “Aku tau kau naksir aku”, tambah Tae Oh sambil tersenyum senang.

Song Yi menghela nafasnya, tidak habis pikir darimana datangnya ide itu di kepala Tae Oh. Tae Oh terus nyerocos, menjelaskan bahwa ia mengerti kenapa Song Yi bisa naksir padanya. Mereka berdua itu sangat cocok satu sama lain, ia tampan, kaya, pintar jika benar-benar mau serius belajar, dan juga suka mentraktir Song Yi. Menurutnya tidak ada yang bisa dibandingkan dengan dirinya. Song Yi senyam senyum mendengar Tae Oh yang memuji diri sendiri.

Tae Oh kembali mengeluhkan gaya berpakaian Song Yi tapi sesaat kemudian ia memutuakan tidak mau mempermasalahkannya. Ia akan membelikan pakaian dan juga sepatu baru untuk Song Yi. Tapi ada dua hal yang ia inginkan dari Song Yi, jangan makan makanan yang terjatuh di lantai dan jangan bersendawa di depannya. Jika Song Yi tidak melakukan itu, ia rasa ia bisa menerima Song Yi. Song Yi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja sambil tersenyum simpul.

“Uhm… Aku tidak benar-benar membenci kelakuan itu tapi aku akan berusaha menerima itu. Mari kita coba ubah satu-satu”, lagi-lagi Tae Oh berubah pikiran.

“Kau… Bukan kau. Bukan kau orang yang aku taksir”, ucap Song Yi terus terang. Senyum di wajah Tae Oh langsung menghilang.



Ji Ahn pulang dari bekerja dan teringat ucapan Tae Oh tadi siang. Ji Ahn terlihat kecewa dan sedih.

Dari semua orang, kenapa harus Tae Oh? Ketika aku bilang ‘Itu saja, itu saja sudah cukup’, aku tidak bersungguh-sungguh. Jika aku mengatakan padanya aku tidak punya uang untuk berkencan, untuk alasan tertentu, aku merasa seperti sudah kalah. Walaupun dia sahabatku, aku tidak mau dia tau. – Ji Ahn.



Ji Ahn tiba di toko ayahnya. Ayah berkata ia mendengar Ji Ahn bicara pada ayah Tae Oh agar tidak menaikkan uang sewa dan sebagai gantinya Ji Ahn akan bekerja membersihkan gedung di simpang, ayah menyuruh Ji Ahn tidak mencampuri urusan orang dewasa. Ia merasa Ji Ahn sudah menempatkan Tae Oh pada posisi yang tidak mengenakan. Ji Ahn menanyakan apa yang dilakukan ayahnya di saat ayah Tae Oh semakin kaya. Ayah mengatakan kekayaan ayah Tae Oh diwariskan dari generasi ke generasi.

“Tepat sekali! Kakeknya kaya jadi otomatis ayahnya kaya. Ayahnya kaya otomatis Tae Oh akan kaya. Jadi hanya tinggal satu jawaban yang tersisa untukku, Ayah. Harapan, impian, ambisi, apa pun tidak. Ujian pegawai negeri adalah jawaban yang tersisa untuk orang sepertiku”. Ayah terdiam mendengar ucapan Ji Ahn. Lalu Ji Ahn mengatakan ada satu hal yang perlu mereka selesaikan terlebih dahulu sebelum ia mengambil ujian itu, yaitu melunasi kartu kredit. Ayah sudah membuat kartu kredit atas namanya dan pihak bank menelponnya mengatakan bahwa ia harus melunasi kreditnya sebelum akhir bulan ini. Ayah merasa tidak enak pada Ji Ahn dan dengan terbata-bata, ia berjanji akan segera melunasinya.



Tae Oh mengejar Song Yi yang sudah keluar dari rumahnya, menuntut Song Yi mengatakan dengan jelas siapa orangnya, karena Song Yi hanya mengatakan orang itu teman kerjanya. Tapi Song Yi tidak mau, menurutnya Tae Oh tidak perlu tau siapa orang itu.

Tae Oh masih penasaran, apa yang membuat Song Yi naksir orang itu dan apa kelebihan orang itu. Tae Oh merasa jika Song Yi memang ingin berkencan dengan orang itu, Song Yi harus melakukannya sehingga seluruh dunia bisa melihatnya. Song Yi tidak mengatakan apa pun, ia hanya senyam senyum ga jelas. Tae Oh kesal, mendesak Song Yi mengatakan siapa orang yang membuat Song Yi seperti itu.

“Dia keren”, ucap Song Yi sambil tersenyum.

“Itu aku…”, sahut Tae Oh cepat.

Song Yi memandang kesal pada Tae Oh. “Benar-benar tampan”.

“Itu aku!”, sahut Tae Oh kesal.

“Ditambah lagi, dia juga pintar”,

“Itu aku! Itu aku! Persis aku…”, kali ini Tae Oh tidak yakin itu dirinya.





Song Yi menatap Tae Oh dan mulai mendekati Tae Oh, membuat Tae Oh grogi. Song Yi menatap Tae Oh intens, memegang pundak Tae Oh dan mendekatkan wajahnya pada Tae Oh, membuat Tae Oh refleks mundur. Tae Oh jadi fokus ke bibir Song Yi. “Kau… bukan orangnya. Kalaupun ada kehidupan yang lain, kau tetap bukan orangnya…”. Song Yi mendorong Tae Oh menjauh dan pergi meninggalkan Tae Oh tertegun, di pipinya samar-samar terlihat memerah.



Ga In melihat Hoon sedang merapikan banyak kertas. Ia berpikir jika Hoon belajar sebanyak ini, Hoon pasti akan lulus di Universitas Seoul. Lalu Ga In membuka-buka notes yang lain dan menemukan catatan audisi yang diikuti Hoon, ia bertanya apa Hoon masih mengikuti audisi untuk pentas. Hoon tidak menjawab dan balik bertanya apa ayah Ga In sudah tidur.

“Belum… “, sahut Ga In. Hoon mengajak Ga In jalan-jalan bersamanya.





Hoon mengajak Ga In menemaninya pergi ke rumahnya. Hoon menggantungkan tas yang berisi kertas-kertas yang tadi ia bereskan di pagar rumahnya dan kemudian menekan bel rumahnya. Dari dalam ibu Hoon bertanya siapa. Hoon tidak menjawab, ia malah menekan bel berkali-kali, membuat ibunya marah dan keluar dari rumah. Hoon dan Ga In cepat-cepat berlari, Hoon sempat terjatuh dan Ga In membantunya berdiri. Mereka bersembunyi di balik tanaman yang ada di depan rumah Hoon.

Ibu keluar dan melihat tidak ada siapa-siapa di luar. Ketika akan masuk, ibu melihat tas yang tergantung di pagar dan melihat isinya. Hoon dan Ga In tersenyum lebar melihat ibu Hoon membawa masuk tas itu dan melakukan tos.



Tae Oh yang penasaran mulai mendatangi tempat kerja Song Yi satu persatu. Pertama, ia mendatangi pom bensin. Ia menyuruh Song Yi mengisi bensin untuk scooternya sambil memperhatikan satu persatu rekan kerja Song Yi. Song Yi tidak mau karena masih penuh.

“Kalau begitu, isi saja untuk 1.000 won”, desak Tae Oh. Song Yi tetap tidak mau dan menyuruh Tae Oh datang kembali lain waktu.

“Baiklah, toh aku juga akan melakukan itu…”, sahut Tae Oh cuek dan kemudian pergi. Song Yi menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa Tae Oh pasti sudah gila.



Kedua, Tae Oh mendatangi perpustakaan. Dari luar ia sudah memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Di dalam perpustakaan, ia melihat ke sana sini, mencari siapa kira-kira orang yang ditaksir Song Yi. Tidak sengaja ia malah berpapasan dengan Song Yi. “Apa yang kau lakukan di sini?”, tanya Song Yi.

“Bukan urusanmu”, sahut Tae Oh singkat dan pergi begitu saja. Tidak sengaja, Tae Oh berpapasan dengan Ji Ahn dan langsung menarik Ji Ahn ke tempat lain, untuk berbicara empat mata.

“Ada apa?”, tanya Ji Ahn bingung.

“Hei, apa ada seseorang yang pintar dan tampan di sini?”. Ji Ahn berpikir sesaat dan bertanya kenapa Tae Oh menanyakan itu. “Ada seseorang yang ditaksir Song Yi. Apa ada orang seperti itu di sini?”.

Ji Ahn tidak yakin dan merasa tidak ada orang yang seperti itu. Lalu ia ingin tau kenapa Tae Oh ingin bertemu orang itu dan apa yang akan Tae Oh lakukan pada orang itu. Tae Oh beralasan ia cuma penasaran dan ingin tau seperti apa orang yang ditaksir Song Yi. Ji Ahn hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Lalu Tae Oh bertanya apa Ji Ahn tau tempat kerja Song Yi yang lain selain pom bensin.



“Sepertinya dia bekerja di restoran BBQ malam hari”, ucap Ji Ahn. Tae Oh menepuk bahu Ji Ahn dan langsung pergi. Ia sempat terkejut karena bertemu Song Yi di balik rak, tapi ia tidak mengatakan apa pun dan pergi begitu saja.

Song Yi mendekati Ji Ahn yang menyibukkan diri merapikan buku-buku di rak dan bertanya apa yang dikatakan Tae Oh tadi.





“Dia tanya siapa orang yang kau taksir. Seseorang yang tampan, keren, dan pintar”. Song Yi langsung mengkeret mendengar jawaban Ji Ahn. Ji Ahn berbalik, menghadap ke arah Song Yi dan bertanya, “Apa ada orang lain yang seperti itu di perpustakaan ini selain aku?”. Song Yi tersenyum canggung, menggelengkan kepalanya dengan aneh dan langsung kabur. Ji Ahn tertawa senang.



Malamnya, Tae Oh, Ji Ahn, dan Hoon minum-minum di restoran tempat Song Yi bekerja. Ji Ahn tidak kuat minum dan mulai mabuk setelah minum satu gelas. Karena mabuk, ia terus merasa seolah-olah ia pekerja di restoran itu. Setiap kali ada pelanggan yang meminta sesuatu, dengan sigap Ji Ahn langsung berdiri dari kursinya. Song Yi mengkhawatirkan Ji Ahn dan menegur Hoon dan Tae Oh yang membiarkan Ji Ahn minum. Tapi Hoon berkata Ji Ahn yang meminumnya sendiri.

Song Yi masih mengkhawatirkan Ji Ahn dan duduk di sebelah Ji Ahn, membantu membersihkan wajah Ji Ahn. Ji Ahn menggenggam tangan Song Yi dan menurunkan tangan Song Yi dari wajahnya. Song Yi agak kaget, refleks melihat ke arah Tae Oh. Ji Ahn tersenyum pada Song Yi.



Ji Ahn pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Di luar Song Yi sudah menunggu Ji Ahn untuk memberikan sapu tangannya pada Ji Ahn. “Apa kau sudah tidak mabuk?”.

“Yeah…”, jawab Ji Ahn singkat. Song Yi menasehati Ji Ahn agar tidak minum lagi karena Ji Ahn tidak kuat minum. Ji Ahn tersenyum tipis dan Song Yi kemudian berbalik, akan pergi. Ji Ahn memanggil Song Yi kembali, mengembalikan sapu tangan Song Yi. Song Yi tersenyum dan keadaan menjadi sedikit canggung. Lalu Ji Ahn berkata bukan cuma Song Yi yang naksir.

Song Yi tersenyum malu dan menundukkan wajahnya, “Aku tau…”.





Malam itu, Tae Oh mencari Song Yi di tendanya. Song Yi yang akan berangkat tidur dengan perasaan berbunga-bunga dikagetkan oleh gedoran Tae Oh di tendanya. Tae Oh menyuruh Song Yi keluar karena ada yang ingin ia bicarakan. Song Yi membuka sedikit resleting tendanya, menujulurkan kepalanya dan bertanya kenapa. Tae Oh tetap menyuruh Song Yi keluar tapi Song Yi tidak mau karena ia sudah memakai piyama. Tae Oh mendengus, siapa bilang ia melihat Song Yi sebagai wanita. Song Yi tetap tidak mau dan menyuruh Tae Oh mengatakan apa yang mau dikatakan.



“Aku tidak menyukaimu jadi jangan salah paham…”, ucap Tae Oh. Tapi Song Yi malah menggoda Tae Oh, Tae Oh sendiri yang bilang ingin tergila-gila padanya. Tae Oh kesal sekali dan memegang kedua pipi Song Yi dengan kuat, membuat bibir Song Yi agak monyong. “Aku bersumpah! Dalam mimpimu, Han Song Yi!”, teriak Tae Oh marah. Tapi sesaat kemudian, Tae Oh malah terdiam, memperhatikan bibir Song Yi.

“Masih ada yang mau kau katakan?”, tanya Song Yi.

Tae Oh terdiam dan wajahnya sedikit sedih, “Kenapa… bukan aku orangnya?”.

Song Yi menggeleng-gelengkan kepalanya agar terlepas dari tangan Tae Oh. “Kau juga bilang bukan aku orangnya. Kau hanya sukarela menyukaiku karena kasihan padaku. Tidak seperti kau tulus menyukaiku..”

Tae Oh terdiam.

Dulu… ada sedikit ketulusan. – Tae Oh

Tae Oh terlihat sedih dan mengucapkan selamat malam pada Song Yi. Song Yi memandang Tae Oh kebingungan.

Aku menyukai ide bahwa Song Yi menyukaiku… – Tae Oh



Di kamarnya, dengan lesu Tae Oh merebahkan badannya di tempat tidur.

Lupakan. Dia bilang dia tidak suka padaku, jadi lupakan saja. – Tae Oh

Tae Oh mematikan lampu dan memejamkan matanya.



Sementara itu, Ji Ahn yang tengah belajar tiba-tiba teringat Tae Oh yang tadi siang sibuk mencari tau siapa orang yang ditaksir Song Yi dan bertanya-tanya di dalam hati, kenapa Tae Oh penasaran sekali dengan orang yang ditaksir Song Yi.

=== 8 – Kalian Hanya Akan Membiarkannya Karena Kalian Berteman? ===



Tae Oh mencoba menghubungi Se Hyun dan belum juga berhasil. Di koridor kampus, ia melihat Song Yi berdiri di depan vending machine dan terlihat ragu membeli minuman. Ia mendekati Song Yi dan berdiri di belakang Song Yi. Song Yi yang tiba-tiba berbalik terkejut melihat Tae Oh yang tiba-tiba ada di depannya. Tae Oh memasukkan uangnya dan berkata Song Yi harus membayar kembali nanti, dan kemudian pergi. Song Yi mengerutu karena Tae Oh tidak memberinya tumpangan padahal mereka sama-sama harus ke kampus.



Song Yi mengambil minuman yang tadi dibayar oleh Tae Oh dan kebetulan Ji Ahn datang menyapanya. Song Yi langsung memberikan minuman itu untuk Ji Ahn dan Ji Ahn mengucapkan terima kasih. Lalu Ji Ahn menyinggung masalah semalam. Ia berkata ia mabuk dan begitu bangun tadi pagi, ia merasa malu. Song Yi tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, Ji Ahn pergi ke kelasnya, meninggalkan Song Yi yang senyum-senyum sendiri.



Di dalam kelas, Tae Oh masih mencoba menelpon Se Hyun tapi masih juga belum berhasil. Dengan tersenyum-senyum, Ji Ahn datang dan duduk di belakang Tae Oh dan berkata, “Dia imut…”.

“Siapa?”, tanya Tae Oh.

“Gadis yang bekerja denganku. Seluruh wajahnya memerah ketika dia memberikan minuman ini untukku”, sahut Ji Ahn.

“Aku yakin dia cuma menggodamu saja”, sahut Tae Oh tidak percaya.

“Jika memang begitu, itu bahkan lebih manis…”. Tae Oh menyuruh Ji Ahn berkencan saja dengan gadis itu jika memang Ji Ahn suka padanya. “Lihat siapa yang bicara?”, sahut Ji Ahn. Tae Oh terdiam dan teringat ketika Song Yi mengatakan bukan dia orangnya. Tae Oh berdehem dan menyuruh Ji Ahn melupakannya saja, karena semalam ia sudah menolak gadis itu.

Ji Ahn tidak mengerti, bukannya Tae Oh menyukai gadis itu? Tae Oh beralasan itu karena ia lebih gentle daripada Ji Ahn, ia tidak suka gadis yang mengaturnya dan langsung memutuskannya dengan mengatakan ‘Aku membencimu’. Ji Ahn tidak percaya Tae Oh mengatakannya langsung di depan gadis itu, menurutnya itu sangat kejam. Walaupun ia tidak tau siapa gadis itu, tapi ia merasa kasihan pada gadis itu. Tae Oh hanya mengangguk-angguk dengan wajah yang agak sedih.

Kemudian datang seorang teman Tae Oh yang lain, menanyakan bagaimana kencan butanya Tae Oh. Wajah Tae Oh langsung berubah gembira dan memeluk temannya itu, sangat berterima kasih berkat temannya itu, ia bertemu dengan seorang dewi. Tiba-tiba Tae Oh melihat Se Hyun lewat di koridor depan kelasnya, Tae Oh kaget dan langsung berlari keluar kelas. Sayangnya, belum sempat Tae Oh melihatnya, Se Hyun sudah berbelok ke koridor yang lain.

Ji Ahn kebingungan melihat Tae Oh celingak-celinguk di luar kelas. Tae Oh kembali masuk sambil bergumam, merasa melihat teman kencan butanya. Tapi teman yang mengatur kencan buta Tae Oh berkata tidak mungkin, karena hari itu temannya itu tidak datang, ia balik dengan mantan pacarnya. Temannya itu juga berkata Tae Oh cowok yang aneh karena terus mengirimkan pesan yang aneh.

Tae Oh tidak mengerti dan meminta temannya itu menunjukkan foto gadis itu padanya, ia bahkan mengambiil sendiri ponsel dari saku celana temannya. Tae Oh kaget melihat foto gadis itu yang sama sekali bukan gadis yang ia temui di cafe dan juga tidak mirip Miranda Kerr.

Ji Ahn mengirimkan pesan di grup : Yoon Tae Oh berkencan dengan hantu.

Tae Oh berbalik, memsang wajah kesal pada Ji Ahn. Ji Ahn tidak peduli, tetap mengirimkan pesan di grup : Gadis yang ditemui Tae Oh bukan Miranda Kerr dan bukan dari jurusan Literatur.



Song Yi yang sedang kuliah, membalas pesan : Jadi siapa gadis itu? Ternyata Se Hyun sekelas dengan Song Yi dan kebetulan ia ingin meminjam pulpen pada Song Yi.

Tae Oh membalas : Tingginya 170 cm, rambutnya lurus, tubuhnya sempurna. Jika kalian melihat gadis seperti itu di sekitar rumah kalian, beritahu padaku.

Awalnya Song Yi tidak percaya dengan gambaran yang diberikan Tae Oh. Lalu tidak sengaja, ia menoleh ke samping dan melihat Se Hyun dari ujung kaki hingga ke wajahnya. Song Yi baru mengenali, gadis yang duduk di sampingnya adalah teman kencan Tae Oh. “Daebak…”, serunya berbisik.

Tae Oh : Maksudku kami sudah bertemu dua kali, tapi kenapa dia tidak mengatakan apa pun?

Hoon : Mungkin itu karena dia menyukaimu.

Song Yi : Tidak mungkin.

Tae Oh kesal pada Song Yi dan membalas : Tidak. Aku pikir dia mnyukaiku juga. Sepertinya dari awal dia sudah tertarik padaku.

Hoon : Aku itu. Dia pasti si stalker itu. Aku selalu berpikir kapan gadis itu muncul.

Ji Ahn, Song Yi dan Ga In: Stalker?



Ga In yang sedang bersama Hoon bertanya pada Hoon apa Tae Oh punya stalker. Hoon menganggukkan kepalanya.

Hoon : Ya. Tae Ho punya stalker. Dia selalu mengirimkan hadiah pada hari-hari sepsial, tiga kali dalam setahun, hari valentine, ulang tahun Tae Oh dan Natal. Dia selalu mengirimkan hadiah.

Ga In : Gadis itu aku.



Ji Ahn, Tae Oh, dan Song Yi melongo. Hoon menegur Ga In, karena Ga In semua orang menjadi canggung.

Song Yi : Malam ini aku akan mengadakan pesta rumah baru.

Tae Oh, Ji Ahn, Hoon, dan Ga In : Oke.

Setelah semua orang menyimpan ponsel mereka kembali, Hoon menyinggung apa yang dikatakan Ga In tadi, apa Ga In benar-benar stalkernya Tae Oh. Ga In hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya, merawat rambut pelanggannya.



Kuliah sudah selesai. Melihat Se Hyun langsung keluar dari kelas, cepat-cepat Song Yi membereskan bukunya dan mencari Se Hyun di luar kelas. Untungnya, Song Yi menemukan Se Hyun sedang berdiri di depan sebuah papan pengumuman di dekat kelas, sedang menempelkan pengumuman. Begitu melihat Song Yi, Se Hyun baru teringat dan mengembalikan pulpen Song Yi.

Song Yi meminta maaf dan menanyakan siapa Se Hyun. Se Hyun kaget, tidak mengerti. Song Yi memperkenalkan dirinya adalah temannya Yoon Tae Oh, teman kencan Se Hyun. Se Hyun masih bingung. “Kau datang di kafe tempat aku bekerja waktu itu”, jelas Song Yi lagi.

Se Hyun baru ingat. “A… Kau teman yang itu…”. Song Yi mengatakan Tae Oh mencari Se Hyun. Sepertinya Song Yi berbicara informal pada Se Hyun karena kemudian Se Hyun mengatakan ia tidak begitu suka dengan cara Song Yi berbicara padanya. Song Yi meminta maaf, karena ia tidak tau nama Se Hyun. Lalu Song Yi menanyakan kenapa Se Hyun tidak mengatakan pada Tae Oh bahwa dia bukan teman kencan buta Tae Oh.

“Uhm… Yoon Tae Oh itu menarik. Aku yakin kita akan sering bertemu karena kita mengambil kelas yang sama”, ucap Se Hyun dan kemudian pamit pergi. Setelah Se Hyun pergi, Song Yi membaca pengumuman yang ditempel Se Hyun tadi (pengumuman dari klub film) dan kaget. Ternyata Se Hyun berasal dari kelas 12, tiga tahun di atasnya.

Malamnya, semua orang berkumpul di rumah Tae Oh. Tae Oh, Ji Ahn, Hoon, dan Song Yi duduk di meja tamu, mereka semua memperhatikan Ga In yang saat itu sedang sibuk memasak di dapur. Dengan berbisik, Tae Oh bertanya pada Hoon, apa ia sudah bertanya pada Ga In. Hoon menjawabnya berbisik juga, itu cuma bercanda. Ji Ahn menimpali, juga sambil berbisik, ia yakin itu bukan bercanda dan menyuruh Tae Oh yang menanyakannya langsung.

“Lalu kemudian aku harus bagaimana?”, sahut Tae Oh lagi, masih berbisik.

“Apa kau tidak mencurigainya?”, tanya Song Yi.



“Tidak. Kalau aku tau aku tidak akan menyebutnya stalker”, bantah Tae Oh. Mereka tidak sadar, Ga In sudah berada di dekat mereka, membawakan empat mangkuk sup. “Jika ada yang ingin kalian katakan, katakan saja. Jangan berbisik di belakangku”, tegur Ga In.



Semua orang terkejut dan langsung mengatakan tidak ada. Hoon mengambil mangkuk sup dan membagi-bagikan ke Ji Ahn dan Song Yi. “Kalian benar. Stalker itu aku. Aku menyukai Tae Oh”, ucap Ga In sambil melihat ke arah tae Oh.

Semua orang kaget dan menjadi canggung, terutama Tae Oh. “Ga In… Itu pengakuan yang terlalu langsung dan sedikit menakutkan”, ucap Hoon.

“Kenapa? Aku tidak boleh menyukainya?”, tanya Ga In pada Hoon polos. Ji Ahn dan Song Yi semakin canggung. Tae Oh bertanya kenapa Ga In menyukai dirinya.

“Hanya, aku menyukaimu dari SD”. Tae Oh jelas kaget karena Ga In sudah menyukainya begitu lama dan kembali bertanya kenapa. “Sudah sanagt lama jadi aku lupa kenapa”, sahut Ga In polos. Semuanya jadi terdiam mendengar jawaban aneh Ga In.

“Ga In, kau benar-benar membingungkan. Aku suka itu”, puji Hoon dan kemudian tertawa. Yang lainnya juga ikut tertawa. Lalu Tae Oh meminta maaf pada Ga In karena ia sudah memiliki seseorang yang sangat ia sukai. Tae Oh berpaling pada Song Yi, menyuruhnya untuk tidak geer karena gadis itu bukan Song Yi.

“Siapa juga yang bilang aku?”, sahut Song Yi, males. Ji Ahn memperhatikan Tae Oh dan Song Yi.

Tae Oh kembali pada Ga In. “Kau tau kan gadis yang mirip Miranda Kerr. Aku menyukainya”.

“Jadi?”, tanya Ga In polos.

Tae Oh kaget, tidak sanggup melanjutkannya. Hoon memberi isyarat agar Tae Oh berterus terang. “Karena kau bicara terus terang padaku, aku juga akan berterus terang padamu. Aku takut kau akan terluka…”. Tae Oh ragu dan menatap teman-temannya. Ji Ahn dan Song Yi menggelengkan kepala mereka. “Apa kita bicara setelah mereka pergi?”, tawar Tae Oh pada Ga In.

Ga In menggelengkan kepalanya, menyuruh Tae Oh mengatakan apa yang ingin Tae Oh katakan.

“Baiklah, kalau kau memaksa, aku akan mengatakannya…”. Song Yi mencubit pinggang Tae Oh, membuat Tae Oh kesakitan. Hoon mengalihkan dengan mengatakan bahwa dagingnya sudah hangus. Ga In heran melihat sikap teman-temannya itu. Song Yi berkata mereka hanya berpikir tidak seharusnya mereka mendengar ini. Ga In berkata pada Tae Oh bahwa ia tidak mengharapkan apa pun dari Tae Oh, dia hanya menyukai Tae Oh dan akan terus seperti itu.

Teman-temannya semakin kaget. “Akan terus menyukai? Sampai kapan?”, tanya Tae Oh.

“uhm… Sampai aku membencimu”.

“Menurutmu, kapan kau akan membenciku”.

“Aku tidak tau”. Semua orang menghela nafas mereka. Lalu Ga In berpamitan. Ia harus pergi karena sudah hampir saatnya ayahnya pergi tidur. Hoon berpamitan pada teman-temannya juga dan menyusul Ga In. Song Yi terlihat sedih.



Ga In turun dari atas dan melihat Hoon akan tidur di sofa. Ia menyuruh Hoon tidur bersama ayahnya. “Bolehkah?”, tanya Hoon ragu. Ga In mengatakan tidak apa-apa karena ayahnya emnyukai Hoon. Ga In menyuruh Hoon cepat mengikutinya ke atas. Hoon terdiam sesaat dan kemudian pindah.

Di kamar ayah Ga In, Hoon menyiapkan tempat tidurnya sendiri. Ga In datang membawakan minuman untuk ayahnya dan merapikan selimut ayahnya. Ga In berpesan pada Hoon agar tidak mendengkur dan memberikan minuman pada ayahnya jika ayahnya haus. Hoon menyanggupi dan meminta Ga In agar tidak khawatir.



“Apa kita akan membiarkan Ga In seperti itu?”, tanya Song Yi.

“Lalu aku harus bagaimana?”, tanya Tae Oh. Ji Ahn berpendapat itu bukan tanggung jawab Tae Oh, Ga In sendiri yang menyukai Tae Oh. Tapi bukan itu maksud Song Yi. Menurutnya mereka tidak boleh terus seperti ini, seseorang harus mengatakan tentang ayah Ga In pada Ga In, mereka harus membuat Ga In bisa menghadapi kenyataan. Tae Oh dan Ji Ahn terdiam. “Aku bakan tidak sanggup naik ke atas”, gumam Song Yi, mulai menangis. Ia memarahi Tae Oh dan Ji Ahn yang terus bersikap seolah-olah ayah Ga In masih hidup (Ji Ahn pernah membawakan ayam goreng untuk ayah Ga In dan Tae Oh mengajak Hoon makan ayam goreng itu bersama ayah Ga In dan kemudian naik ke atas).

“Kenapa kalian melakukan itu? Kita temannya. Apa kalian akan terus membiarkannya seperti itu?”. Tae Oh dan Ji Ahn tidak bisa menjawab.





Hoon tersenyum melihat ke arah tempat tidur ayah Ga In dan mengucapkan selamat malam pada ayah Ga In dan tidur, memunggungi tempat tidur ayah Ga In. Lalu kamera mulai bergerak, memperlihatkan tempat tidur ayah Ga In yang kosong. Ada foto ayah Ga In di atas bufet, di samping tempat tidur ayah Ga In. Hoon berbalik, melihat ke arah foto ayah Ga In, mulai menangis dan berkata, “Ayah… sepertinya Ga In lupa bahwa ayah sudah meninggal…”.





=== 9 – Bukan Karena Aku, Tapi Karena Cowok Lain ===

Song Yi sedang membersihkan rumah Tae Oh, tidak sengaja ia melihat video rekaman Ga In di laptop Tae Oh. Wajah Song Yi menjadi sedih setelah memutar video Ga In. Sementara itu, Hoon sedang menunggui Ga In yang duduk sambil melihat ke suatu tempat di taman. Tae Oh yang sedang lari pagi melihat Hoon dan menepuk pundak Hoon, mengagetkan Hoon, bertanya ada yang dilakukan Hoon di sana.



“Aku sedang bersama Ga In”, ucap Hoon sambil menoleh pada Ga In. Tae Oh berkomentar ayah Ga In pasti sedang berolah raga, terlihat beberapa orang wanita sedang berolah raga di sana. Hoon bertanya pada Tae Oh apa Tae Oh benar-benar berpikir Ga In bisa melihat ayahnya.

“Aku yakin ia bisa melihat dengan hatinya. Kalaupun tidak bisa, itu baik-baik saja”, jawab Tae Oh. Hoon tersenyum, mengatakan Tae Oh benar, Ga In memang baik-baik saja. Lalu Hoon teringat pengakuan Ga In semalam pada Tae Oh semalam dan menyuruh Tae Oh untuk tidak memikirkan tentang itu karena Ga In tidak serius dengan apa yang dikatakannya itu dan ada orang lain yang disukai Ga In, yaitu dirinya.

Tae Oh kesal dan akan memukul Hoon. Hoon merasa ada beberapa alasan kenapa Ga In mengatakan ia menyukai Tae Oh. “Pertama, dia khawatir aku akan merasa terbebani dengan perasaannya itu. Kedua dia khawatir aku akan memikirkan perasaannya itu. Dia sangat manis… Ketiga, dia terlalu malu mengakui perasaannya padaku. Jadi hatimu jangan terlalu menjadi lembut karena pengakuannya itu. Dia selalu menyukaiku sejak SD. Itu yang aku pikirkan”, ucap Hoon.

Tae Oh mengangguk-anggukkan kepalanya, memeluk pundak Hoon dan menepuk-nepuknya.



Tae Oh kembali ke rumahnya, melihat Song Yi sibuk menjemur pakaian. Song Yi bertanya dari mana Tae Oh. “Olahraga bersama ayah Ga In”, sahut Tae Oh sambil lalu. Song Yi memarahi Tae Oh yang masih saja seperti itu. Tapi Tae Oh berpendapat lain, itu karena Song Yi tidak mempercayai Ga In. “Kau bilang kita berteman. Aku, Ji Ahn, dan Hoon, kami semua mengkhawatirkan Ga In sama sepertimu. Kami memiliki keyakinan Ga In pasti akan mempunyai kekuatan dan menerima kenyataan tapi kau tidak. Oleh sebab itulah kami bisa menunggu Ga In sedangkan kau tidak”, ucap Tae Oh lagi.

Song Yi terdiam sesaat tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, tidak peduli. Yang pasti ia akan membawa Ga In ke makam ayahnya di hari peringatan kematian ayahnya dan mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal tepat satu tahun. Tae Oh tidak mengatakan apa-apa lagi dan akan masuk ke rumahnya. Namun ia kaget melihat Song Yi memakai mesin cucinya dan protes.

“Tidak lihat aku mencuci bajumu juga?”, sahut Song Yi kesal.



Tae Oh kesal karena Song Yi bahkan menyentuh pakaian dalamnya. Song Yi tidak peduli dan melambai-lambaikan secarik kertas di depan wajah Tae Oh. “Aku tau kau perlu ini. Ini nomor telpon Miranda Kerr”. Tae Oh terkejut dan merampas kertas itu. Song Yi mengelak dan membawa lari kertas itu, Tae Oh mengejarnya, “Kau tau aku mencari-cari nomor telponnya…”

Song Yi berhenti dan mengajak Tae Oh membuat kesepakatan. “Kunci, tagihan listik, tagihan air. Kau mau ini atau tidak?”. Song Yi melambai-lambaikan lagi kertas itu di depan wajah Tae Oh.



Tae Oh menghela nafasnya, merasa kalah. “Baiklah. Berikan padaku”. Tae Oh mendapatkan nomor telpon Se Hyun. Song Yi tersenyum senang.



Hari itu Tae Oh tidak masuk kuliah. Ji Ahn terus menerus melihat ke arah pintu kelas, menunggu Tae Oh datang, sementara dosen terus mengabsen. Ketika nama Tae Oh dipanggil, Ji Ahn yang menjawabnya.

Ji Ahn mengirim pesan di grup : Tae Oh, kau dimana?

Tae Oh : Kuliah Media.

Ji Ahn : Kenapa kau ada di kuliah orang lain?





Tae Oh sedang memandang Se Hyun sambil senyum-senyum sendiri, tidak membaca pesan Ji Ahn.

Song Yi yang menjawabnya : Tae Oh menemukan Miranda Kerr-nya. Dia membolos setelah aku berikan nomor telponnya.

Ga In terdiam membaca pesan Song Yi. Hoon yang sedang bersama Ga In, melirik Ga In. Ga In membalas singkat : Wow, daebak.



Seseorang membuka pintu salon Ga In. Hoon kaget karena yang datang adalah ibunya. Ibu mengajak Hoon bicara di luar.



Ibu memberikan tas pada Hoon, Hoon membukanya dan melihat isinya adalah skrip yang ia gantung di pagar beberapa malam yang lalu. “Apa ibu melihatnya?”. Ibu meng-iyakan dan mengatakan ia bahkan mendiskusikannya dengan ayah Hoon.

“Lihat? Aku bekerja keras ‘kan? Aku mungkin tidak bagus dalam belajar tapi aku bagus dalam hal ini…”. Ibu mendengus dan memberikan sebuah kartu nama pada Hoon. “Ibu dan ayah belum begitu senang tapi coba temui orang itu besok. Dia menunggumu”.

Hoon membaca kartu nama itu dan ternyata kartu nama itu milik seorang produser. Ibu mengatakan produser itu akan memberikan sebuah peran untuk Hoon dan menyuruh Hoon membaca skripnya di dalam tas. Hoon sangat senang karena akhirnya ia bisa mendapatkan peran. Hoon berterima kasih pada ibunya sambil menggenggam tangan Hoon. Tapi ibu cepat-cepat menarik tangannya, menanyakan kenapa Hoon harus menginap di rumah Ga In bukannya di rumah Tae Oh atau Ji Ahn.

“Tidak ada diskriminasi dalam berteman, Ibu…”, sahut Hoon, masih senang dengan kabar yang dibawa ibunya tadi.

“Bukan itu maksudku…”, marah ibu. “Aku dengar dia tidak atau ayahnya sudah meninggal. Semua orang di lingkungan ini bilang dia gila”, marah ibu. Hoon balik marah dan berteriak, mengatakan dia lah yang gila berlarian di sekeliling lingkungan hanya dengan celana dalam. Ibu balas berteriak, mengatai Hoon yang mau berteman dengan orang seperti itu.

“Benar-benar! Dia temanku! Bagaimana bisa aku tidak bermain dengannya? Lingkungan ini benar-benar aneh. Siapa yang bilang dia gila? Siapa? Ibu yang harus berhati-hati dengan siapa ibu berteman. Apa masalah mereka?”, teriak Hoon lagi.



Tiba-tiba Ga In keluar dari rumah. Hoon menanyakan kemana Ga In akan pergi. Ga In berkata ia akan membeli buah semangka untuk ayahnya. “Ayo pergi bersama-sama”, ajak Hoon. Tanpa mempedulikan ibunya, Hoon pergi bersama Ga In. Ibu hanya bisa memandang kesal pada Hoon.



Tae Oh sudah menunggu Se Hyun di luar gedung. Begitu Se Hyun keluar dari gedung, Tae Oh langsung menghadangnya. “Ryu Se Hyun. Jurusan Jurnalisme, kelas 12. Kau pernah pergi selama setahun ke luar negeri dan sekarang kau sudah menjadi senior. Kau senang sudah mengelabuiku?”, tanya Tae Oh.

“Yeah..”.

“Itu artinya kau tertaerik padaku?”, tanya Tae Oh pede.

“Terserah apa katamu…”. Tae Oh merasa Se Hyun sangat sombong untuk orang yang sudah berbohong. Tapi Se Hyun merasa tidak, Tae Oh sendiri yang selalu datang dan terus menghilang. Dan karena sekarang Tae Oh sudah tau umurnya, seharusnya Tae Oh bicara lebih sopan padanya. “Aku senior dan seorang noona…”.

Tapi Tae Oh berkata ia tidak punya noona seperti Se Hyun dan ia juga tidak berbicara formal pada gadis yang ia suka. “Jadi, sampai bertemu nanti malam, Ryu Se Hyun”.



Tae Oh datang ke klub film Se Hyun. Teman-teman Se Hyun menyuruh Tae Oh duduk, tapi Se Hyun tidak mengizinkan karena interview baru akan dilakukan dua hari lagi. Teman-temannya itu tidak peduli dan tetap menyuruh Tae Oh duduk. Tae Oh bertanya apa ia akan diinterview sekarang. Salah satu teman Se Hyun, sebut saja cowok 1 berkata tidak, mereka tidak melakukan hal yang melelahkan seperti itu.

Dan Tae Oh pun duduk di depan mereka. Se Hyun langsung berkata klub filmnya tidak menerima anggota yang hanya melakukannya sebagai hobi, Tae Oh akan menghabiskan banyak banyak waktu di sana. Cowok 1 bertanya apa Tae Oh ingin menjadi aktor dan apa alasannya ingin bergabung di klub film. Tae Oh menjawab bahwa itu seperti takdir yang datang begitu saja.

Cowok 1 menggebrak meja, menyukai jawaban Tae Oh dan berkata, “Kau diterima”. Se Hyun langsung protes. Cowok 2 setuju dengan Se Hyun. Menurutnya bergabung dengan klub film tidak hanya sekedar hobi tapi memerlukan banyak waktu dan bukan hanya dikerjakan seorang diri, Tae Oh akan melakukan banyak proyek dalam kelompok. Lalu ia meminta hasil rekaman yang pernah diambil Tae Oh.

“Aku masih pemula. Aku menggunakan ini untuk merekam gambar dan mengedit”, ucap Tae Oh sambil mengeluarkan kamera super kerennya dari dalam ranselnya. Melihat kamera yang dimiliki Tae Oh, tanpa melihat hasil rekaman Tae Oh, cowok 2 itu langsung setuju menerima Tae Oh. Se Hyun langsung perotes lagi. Tapi cowok 2 itu tidak peduli, bukankah Se Hyun tau mereka kekurangan perlengkapan? Tae Oh sok bergaya dengan kamera super kerennya itu.



Lalu cowok 3 juga suka dengan kalimat yang ditulis Tae Oh di lamarannya. ‘Hari ini adalah hari yang baru. Aku semakin bersungguh-sungguh dalam hal yang aku sukai. Aku berharap aku memiliki impian.’ Cowok 1 setuju, ia merasa kalimat itu seperti menggambarkan sebuah penantian yang panjang. Dan mereka semua kompak, setuju menerima Tae Oh, tidak mempedulikan Se Hyun yang keberatan.



Malam itu, Tae Oh pulang bersama Se Hyun yang sibuk memotret sana sini. “Sampai kapan kau akan mengikutiku?”, tanya Se Hyun ketus.

“Sampai tiba di rumahmu. Kau bilang kita tinggal di lingkungan yang sama. Akan menyenangkan jika kita bisa pergi ke kampus bersama-sama besok pagi. Jadi tunjukkan padaku dimana rumahmu”.

Se Hyun menebak Tae Oh bergabung di klub film pasti punya motif yang lain. Tae Oh tidak mengelak. Se Hyun merasa Tae Oh pasti seorang playboy karena licik dan tidak bicara formal padanya. Namun Tae Oh berkata sejujurnya saat ini dia sedang berusaha untuk tidak merasa canggung di depan Se Hyun. Ia tidak akan pernah memanggil Se Hyun dengan noona karena di saat ia memanggil Se Hyun noona maka sejak itulah masa depannya bisa bersama Se Hyun hilang.

Se Hyun bertanya apa Tae Oh pernah berkencan, berapa banyak gadis yang sudah dikencani Tae Oh. Tae Oh tidak bisa menjawab dengan jelas. Se Hyun menebak Tae Oh pasti belum pernah punya pacar. “Apa yang kau bicarakan? Kita berkencan sekarang…”, sahut Tae Oh. Se Hyun mendengus dan tersenyum. Tae Oh ikut tersenyum.



Mereka kembali melanjutkan berjalan, Se Hyun memotret bagian-bagian yang menarik. Sementara Tae Oh, mencuri kesempatan, ingin memeluk pundak Se Hyun. Se Hyun tau dan berkata, “Jangan pernah berpikir meletakkan tanganmu di bahuku…”. Tae Oh menarik kembali tangannya, “Aku tidak punya niat melakukan itu”, bohong Tae Oh. Se Hyun tertawa kecil dan mengatakan Tae Oh itu imut. Tae Oh jelas protes, tidak mau disebut imut, tapi keren dan mulai sekarang ia akan bersikap lebih keren lagi.

Tae Oh kembali akan melingkarkan tangannya ke pundak Se Hyun, namun tiba-tiba Song Yi menelponnya. Se Hyun menyuruh Tae Oh menerima telpon itu dan Tae Oh berjalan menjauhi Se Hyun.



Di telpon, Song Yi memberitahukan Tae Oh bahwa malam ini ia akan mengakui perasaannya pada cowok yang ia sukai. Song Yi melihat sekilas ke arah Ji Ahn yang berada di dalam mini market. Tae Oh kaget dan terdiam. “Yoon Tae Oh, kau mendengarkan?”, tanya Song Yi.

“Kau bilang kau akan menyukainya dari jauh”, ucap Tae Oh, nadanya agak sedih.

“Kenapa? Apa seharusnya tidak bilang ya?”.



“Kenapa tiba-tiba kau ingin mengakui perasaanmu?”. Tidak sengaja Se Hyun mendengar pertanyaan Tae Oh itu dan melihat ke arah Tae Oh. Song Yi berkata ia tidak tau dan menyuruh Tae Oh mengatakan padanya apa ia harus mengakui perasaaannya atu tidak. Tae Oh melihat ke belakang, ke arah Se Hyun dan Se Hyun cepat-cepat mengalihkan pandangannya.

“Kenapa tanya padaku?”, kali ini nada Tae Oh berubah agak kesal.

“Coba pikir! Bagaimana kalau keadaan menjadi canggung setelah aku menyatakan perasaanku? Aku butuh keberanian. Beri aku keberanian. Aku tidak jelek, kan? Tidak apa-apa seorang gadis mengakui perasaannya, kan?”, desak Song Yi.

“Tidak tau. Lakukan saja apa yang kau mau”, Tae Oh memutuskan telpon. Song Yi kembali melihat ke dalam mini market, ternyata Ji Ahn sudah tidak ada lagi di sana.



Tiba-tiba Ji Ahn sudah ada di depannya, bertanya kapan Song Yi datang. “Baru saja”, jawab Song Yi. Song Yi terdiam sesaat dan mempersiapkan keberanian untuk mengakui perasaannya pada Ji Ahn.



Tae Oh masih mengikuti Se Hyun. Tapi kali ini, ia berjalan dengan lesu. Tae Oh berhenti dan bersandar di tembok, teringat Song Yi pernah bilang bahwa cowok yang ia suka itu seperti sebuah oasis untuknya dan seseorang yang ingin ia ajak berlibur bersama, hanya memandangnya saja sudah membuatnya bahagia.

Se Hyun melihat Tae Oh yang sedang bersandar di tembok sambil melamun dan memotretnya, membuat Tae Oh tersadar dari lamunannya. “Dia gadis yang di cafe, bukan? Gadis yang menelpon dari kantor polisi”, ucap Se Hyun. Tae Oh menundukkan kepalanya. “Kalau kau harus pergi, pergilah”.

“Tidak apa-apa”, sahut Tae Oh.

“Kau menyukainya, kan?”. Tae Oh bengong. “Kau menyukainya”, tegas Se Hyun lagi. Tae Oh membantah, ia memiliki empat teman di lingkungannya dan Song Yi adalah salah satunya. “Kalau begitu, dia pasti cinta pertamamu”, tebak Se Hyun.

“Aku bilang bukan…”, bantah Tae Oh lagi. Lalu ponsel Tae Oh kembali berbunyi, dari Song Yi. Se Hyun menyuruh Tae Oh menerimanya, karena Tae Oh terlihat tidak begitu baik setelah berbicara dengan Song Yi tadi. “Sudah aku bilang bukan seperti itu…”, bantah Tae Oh lagi.



Tae Oh berbalik dan menjawab telpon Song Yi. “Apa kagi sekarang?”, tanya Tae Oh kesal. Tae Oh mendengar Song Yi menangis. “Kau menangis? Kenapa kau menangis?”.

“Dimana kau sekarang? Aku membutuhkanmu. Aku ada di rumah lamaku. Cepat…”.



“Baiklah. Aku akan datang dalam lima menit. Jadi berhenti menangis! Tunggu aku. Aku akan ke sana sekarang”. Tae Oh menutup telponnya dan ragu-ragu, tidak tau apa yang harus dikatakan pada Se Hyun. Tapi Se Hyun menyuruh Tae Oh pergi, ia akan baik-baik saja. Sebelum pergi, Tae Oh meminta Se Hyun menunjukkan rumah Se Hyun padanya lain waktu.



Tae Oh berbalik dan berlari, menuju ke tempat Song Yi. Se Hyun memotret Tae Oh yang sedang berlari dan bergumam, “Itu benar. Kau memang menyukainya”.



Tae Oh melihat Song Yi menangis sambil duduk di depan pagar rumahnya yang lama. Begitu melihat Tae Oh datang, tangis Song Yi semakin keras. “Apa yang terjadi? Aku pikir kau akan mengakui perasaanmu padanya. Apa dia menolakmu?”, tanya Tae Oh, agak marah. Song Yi menganggukkan kepalanya. Tae Oh menghela nafasnya dan duduk di samping Song Yi.

Han Song Yi menangis. Bukan karena aku, tapi karena cowok yang lain. – Tae Oh



Tae Oh mencari-cari sapu tangan tapi tidak ada. Tae Oh membuka bajunya dan memberikannya pada Song Yi. Song Yi menerima baju itu dan mengelap air mata dan ingusnya dengan baju Tae Oh. 😀

“Siapa dia? Siapa orang yang kau tangisi?”.

“Apa yang akan kau lakukan kalau tau?”.

“Aku akan membunuh bajingan itu. Jadi siapa orang yang menolakmu? Dia pikir siapa dia sampai-sampai menolakmu? “, sahut Tae Oh marah.

“Jangan bercanda!”, sahut Song Yi marah.

“Jangan membela dia! Kau…”. Ucapan Tae Oh terputus karena Se Hyun tiba-tiba ada di sana dan memandang aneh padanya. Tae Oh baru sadar ia tidak pakai baju dan refleks menutup dadanya. “Dia tidak menangis karena aku”, ucap Tae Oh terbata-bata.





“Aku benar-benar tidak menangis karena dia”, Song Yi ikut menjelaskan dengan terbata-bata. Song Yi bahkan menyilangkan tangannya, meyakinkan Se Hyun bahwa ini bukan seperti yang dipikirkan Se Hyun. Se Hyun tersenyum tipis melihat kedekatan Song Yi dan Tae Oh. Tae Oh bertanya kenapa Se Hyun ada di sana. Se Hyun mengatakan itu adalah rumahnya, sambil menunjuk ke arah rumah Song Yi yang lama. Tae Oh dan Song Yi kaget dan cepat-cepat pindah dari depan pagar, memberi jalan agar Se Hyun bisa masuk.

Dan setelah berpamitan, Se Hyun pun masuk ke dalam rumah meninggalkan Tae Oh dan Song Yi yang saling berpandangan, kebingungan.

Bersambung…

Sinopsis Because It’s The First Time Episode 3 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Siti Mar'atun Choiriyah

0 comments:

Post a Comment