Wednesday, 11 November 2015

Sinopsis Because It’s The First Time Episode 4

BAB 10 - Aku Tidak Bisa Memintamu Menungguku


Tae Oh membawa Song Yi ke minimarket tempat Ji Ahn bekerja. Setelah membelikan minuman, Tae Oh memberitahukan Song Yi sepertinya Ji Ahn sudah pulang. Song Yi tidak berkomentar. Song Yi menebak sepertinya Tae Oh baru tau Se Hyun tinggal di rumahnya yang dulu. Tae Oh menganggukkan kepalanya. Song Yi merasa ia sangat bahagia ketika tinggal di rumah itu dulu, karena rumah itu adalah rumah pertama dan terakhir yang pernah ditinggali oleh kedua orang tuanya.



Se Hyun keluar dari rumahnya, celingak-celinguk mencari Tae Oh dan Song Yi dan mengatai Tae Oh bodoh karena tidak sadar dengan perasaannya sendiri, padahal Tae Oh selalu saja menolong Song Yi kapan pun Song Yi menelpon.



Kembali pada Tae Oh dan Song Yi yang masih di minimarket. Tae Oh meminta Song Yi menceritakan kepadanya kenapa Song Yi ditolak. Song Yi mulai menangis lagi karena Tae Oh menyinggung masalah itu dan itu membuat Tae Oh marah, mengancam jika Song Yi menangis, ia akan pulang ke rumah. Song Yi tidak jadi menangis, dan bercerita.

Aku pergi ke tempat ia bekerja… – Song Yi


Song Yi mengingat ia datang ke minimarket dan bertemu dengan Ji Ahn di depan minimarket.

Aku tidak tau, aku membutuhkan keberanian untuk mengatakan aku menyukainya. Itu pertama kalinya aku menyadarinya. Aku… benar-benar takut. – Song Yi

Tae Oh menenangkan Song Yi, mengatakan bahwa lebih baik seperti ini karena Song Yi tidak punya waktu untuk hubungan seperti itu. Tapi Song Yi tidak mau seperti itu, ia sangat ingin ini berhasil dan tidak ingin menyia-nyiakan masa mudanya, jika ia tidak memiliki yang lain, paling tidak ada satu hal yang ia miliki sama seperti yang orang lain miliki, ia ingin sedikit lebih berbahagia. Tapi Song Yi merasa ia sudah serakah.

Tae Oh ikut sedih, “Apa kau… benar-benar menyukainya?”. Song Yi menganggukkan kepalanya, ia berpikir ‘Inilah cinta’-nya. Tae Oh tidak percaya Song Yi bisa menganggap perasaannya itu cinta, padahal Song Yi belum melakukan apa pun dengan orang itu. Song Yi kesal, menurutnya Tae Oh tidak tau masalah cinta. Lalu Song Yi menceritakan apa yang ia rasakan.



Song Yi datang ke perpustakaan, merapikan rambutnya dan celingak-celinguk mencari sosok Ji Ahn.

Aku pernah bilang ‘kan kami bekerja di tempat yang sama? Ketika aku membuka pintu, hanya tau bahwa ia ada di sana sudah membuatku bahagia, aku… mulai tersenyum begitu melihatnya dari jauh. Aku berkeliling perpustakaan mendorong kereta, aku merasa ia akan ada di sana, dan begitu ia muncul, dunia terasa lebih cerah. Dunia bahkan lebih cerah ketika ia tersenyum. – Song Yi

“Bagaimana mungkin itu bukan cinta?”, tanya Song Yi. Tae Oh mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengakui bahwa ia juga pernah memiliki orang seperti itu, ia ingin membuat orang itu tersenyum (Tae Oh teringat saat ia bersama Song Yi duduk di atas bak truk ketika membantu Song Yi pindahan dan membelikan roti sosis untuk Song Yi).

“Daripada menangis, ia lebih cantik ketika tersenyum. Hanya saja… aku tidak seyakin dirimu. Mungkin setelah aku menyadari ini adalah cinta, aku segera akan merasa hidup ini membosankan dan aku merasa sepertinya akan ada hal lain yang membuatku lebih tergila-gila. Mereka juga mengatakan ini ketika aku mendaftar di klub. Aku tidak ingin memutuskan apa pun saat ini, seperti ‘Ini adalah impianku’, ‘Ini adalah cinta’. Aku belum yakin saat ini. Oleh sebab itulah aku merasa aneh ketika kau bilang ‘Ini adalah cinta’ dan ketika Ji Ahn bilang ia ingin menjadi pegawai negeri”, jelas Tae Oh panjang lebar.

Song Yi mengatakan Tae Oh itu tidak menyedihkan, karena orang tua Tae Oh punya uang. Song Yi mengajak Tae Oh membicarakan masalah yang pertama, tentang impian. Ia percaya untuk orang seperti dirinya dan Ji Ahn, mereka hanya harus memutuskan lebih cepat untuk mendapatkan sesuatu hal yang stabil di dunia ini. Dan untuk masalah yang kedua, tentang cinta, Song Yi menebak Tae Oh juga ditolak oleh gadis itu. Song Yi menertawakan Tae Oh.

Tae Oh membenarkan, ia memang ditolak oleh gadis itu. “Apa kau menangis?”. Tae Oh menggelengkan kepalanya, sebaliknya ia merasa lega, karena itu memberinya kesempatan bertemu dengan gadis lain yang jauh lebih cantik dari gadis itu. Lalu Tae Oh balik ke masalah Song Yi dan bertanya bagaimana cara Song Yi mengakui perasaannya itu. Song Yi menggelengkan kepalanya, menyuruh Tae Oh melupakan itu, ia tidak ingin membicarakannya lagi dan mengajak Tae Oh minum bir.

Tae Oh setuju. Sebelum pergi, Song Yi minta Tae Oh berjanji untuk tidak menceritakan pada yang lainnya. Tae Oh menganggukkan kepalanya dan meletakkan jarinya di bibirnya… “Sst… Sst…” sambil tersenyum… (Wuahh… senyum Tae Oh senyum orang yang ga bisa pegang janji… :-P)



Ji Ahn sedang mengepel lantai toko ayam goreng ayahnya. Tiba-tiba ia teringat pengakuan Song Yi tadi.



=== Flashback ====

“Aku menyukaimu. Ji Ahn, aku menyukaimu”.

Ji Ahn kaget, membuat Song Yi tersenyum malu dan mengatakan sekali lagi perasaannya. Song Yi mengakui bahwa ia sudah menyukai Ji Ahn dari kecil tapi perasaannya itu semakin tumbuh ketika mereka sama-sama masuk kuliah. Song Yi tertawa canggung dan Ji Ahn tersenyum, bertanya kenapa Song Yi menyukai dirinya.

Song Yi menggelengkan kepalanya, tidak tau. Song Yi menduga Ji Ahn pasti merasa terkejut karena ia mengaku duluan, tadinya ia ingin menunggu sampai Ji Ahn yang mengungkapkan terlebih dulu tapi ia merasa Ji Ahn sebenarnya sudah mengakui perasaannya lebih dulu, yaitu ketika di tempat kerjanya dulu, Ji Ahn pernah mengatakan bahwa bukan hanya Song Yi yang naksir. Dan sekarang ia mengatakan perasaannya hanya untuk memperjelas saja.

Ji Ahn lama terdiam, membuat Song Yi semakin gugup dan meremas-remas tali tasnya. “Aku menyukaimu, Ji Ahn. Maukah kau berkencan denganku?”, tanya Song Yi lagi.



Ji Ahn tersenyum tipis dan kemudian menghela nafasnya. “Song Yi, kita berteman. Aku tidak pernah sekali pun memikirkan kau lebih daripada seorang teman”. Song Yi langsung lemas mendengar jawaban Ji Ahn.

=== Flashback End ===

Ji Ahn masih memikirkan jawabannya pada Song Yi tadi, membuatnya sedih.



=== Flashback ====

Song Yi mulai menangis, mengatakan bahwa Ji Ahn pasti tidak serius mengatakannya. “Kau menyukaiku. Cara kau memperlakukanku di perpustakaan dan juga setiap malam di minimarket. Kau juga menyukaiku. Kau bilang itu bukan cuma naksir”, tuntut Song Yi sedih.

Song Yi ingin Ji Ahn menjelaskan maksud perkataan Ji Ahn bahwa itu bukan cuma naksir karena ia sama sekali tidak mengerti. Ji Ahn tidak menjawab. Song Yi terus bertanya apakah Ji Ahn tidak mnyukainya. Ji Ahn mengatakan Song Yi yang salah paham. Song Yi memukul Ji Ahn dan berjongkok, menangis sambil memeluk lututnya. Ji Ahn melihat Song Yi dengan sedih.

=== Flashback End ===



Ji Ahn kesal, membanting kursi ke lantai. Ji Ahn membuka secarik kertas tagihan kartu kreditnya. Ayah Ji Ahn memakai kartu kredit Ji Ahn dan membuatnya memiliki hutang. Ji Ahn marah dan meremas kertas itu. Tiba-tiba ia melihat Song Yi menempel di pintu tokonya.





Song Yi yang sudah mabuk, mengata-ngatai Ji Ahn dan menyuruh Ji Ahn keluar. Tae Oh tertawa, bertanya pada siapa Song Yi melampiaskan kemarahannya karena itu rumah Ji Ahn, bukan rumah orang yang menolak Song Yi, lagipula mereka tadinya mau ke karaoke. Song Yi tidak peduli, terus marah-marah, menuduh Ji Ahn sudah mempermainkannya, menjadikan ia mainan, dan ia yakin Ji Ahn pasti menyukainya.



Tiba-tiba Song Yi berdiri, berpose cantik di depan Tae Oh, bertanya pada Tae Oh bagaimana bisa orang itu tidak menyukainya, dia ‘kan peri yang cantik. Tae Oh tertawa-tawa melihat kegilaan Song Yi. Song Yi kembali berbalik, memukul-mukul pintu toko, berteriak, bertanya kenapa Ji Ahn tidak menyukainya.



Tae Oh menegur Song Yi agar memelankan suaranya karena ayah Ji Ahn bisa-bisa terbangun. Tae Oh memaksa Song Yi menjauh dari pintu toko dengan menarik Song Yi, membuat Song Yi terjatuh ke pelukannya. Song Yi bersandar pada Tae Oh sambil terus nyerocos, “Kau tau? Dia bohon tidak menyukaiku. Dia benar-benar menyukaiku. Dia bisa membodohi hantu tapi dia tidak bisa membodohiku. Aku sangat cepat menyadarinya”.

“Tidak. Kau tidak cepat. Bahkan kau tidak tau kalau aku menyukaimu”, ucap Tae Oh dalam hatinya.

Tiba-tiba Song Yi melompat-lompat sambil memukuli Tae Oh, menyuruh Tae Oh membunuh orang itu karena tadi Tae Oh sudah berjanji. Tae Oh pun pura-pura mengiyakan. Ji Ahn akhirnya keluar dan melihat Song Yi memeluk Tae Oh. Song Yi sangat kaget ketika melihat Ji Ahn dan langsung mendorong Tae Oh, membuat Tae Oh kesakitan. Tae Oh kaget karena ternyata dari tadi Ji Ahn ada di dalam.



Melihat Ji Ahn, membuat Song Yi mulai menangis lagi dan itu membuat Tae Oh kesal. Lalu ia memberitahukan Ji Ahn bahwa hari ini Song Yi menyatakan perasaannya dan ditolak. Song Yi cepat-cepat menutup mulut Tae Oh, membuat mulut Tae Oh sakit. Ia menyuruh Ji Ahn tidak memberitahukan Hoon dan Ga In karena ini rahasia. Ji Ahn hanya diam saja, tidak mengatakan apa pun.



Ga In dan Hoon mendapat pesan di grup dari Tae Oh : Keluar. Song Yi bilang dia harus bernyanyi malam ini. Ini rahasia, hari ini Song Yi ditolak oleh seseorang. Dia benar-benar mabuk dan menangis seperti bayi.

Dan mereka pun berkumpul di tempat karaoke, Song Yi baru membaca pesan di grup dan langsung lemas karena sekarang semua orang sudah tau… 😛





Song Yi memarahi Tae Oh, tapi Tae Oh tidak sadar karena sedang melihat Ji Ahn yang jejingkrakan ga karuan menyanyikan lagu rock. Hoon dan Ga In juga melihat Ji Ahn bingung. Bertanya-tanya apa yang terjadi pada Ji Ahn, apa Tae Oh memberi Ji Ahn alkohol. Tae Oh menjawab tidak. Hoon bertanya, apa Ji Ahn yang ditolak?

“Tidak. Song Yi yang ditolak”, jawab Tae Oh lagi. Ga In dan Hoon penasaran kenapa Song Yi ditolak dan siapa orang yang menolak Song Yi. Song Yi hanya memberi mereka pandangan kesal dan tidak mau menjelaskan.



Mereka kembali memperhatikan Ji Ahn yang sekarang menyanyikan lagu sedih. Song Yi memandang Ji Ahn sedih sekaligus khawatir.

Ketika aku mengatakan aku tidak pernah berpikir dia lebih dari teman, ketika aku mengatakan dia salah paham, itu semua bohong. ‘Aku menyukaimu’, ‘Ayo kita berkencan’, aku ingin mengatakan semua itu lebih dulu. – Ji Ahn


Ji Ahn membayangkan dirinya sudah dewasa dan sudah memiliki mobil sport. Ia datang menjemput Song Yi, yang dalam bayangannya sudah bekerja menjadi guru di sekolah, dengan membawakan seikat bunga.

Kalau aku sudah dewasa, bukan kimbab ataupun kopi kaleng, aku bisa memberimu yang lain. – Ji Ahn

Teman kerja Song Yi kaget karena ternyata Song Yi sudah punya pacar, tapi dengan malu-malu Song Yi mengaku bahwa Ji Ahn hanyalah temannya saja. Ji Ahn tersenyum ketika Song Yi berjalan ke arahnya dan kemudian memberikan bunga itu untuk Song Yi. “Aku menyukaimu. Ayo kita berkencan, mulai hari ini”. Song Yi tersenyum senang dan menerima bunga dari Ji Ahn.

Aku ingin memintamu menunggu sampai saat itu. ‘Aku punya rencana dan aku bekerja keras mewujudkannya’, ini yang ingin aku katakan pada Song Yi. – Ji Ahn




Ji Ahn terduduk dan berguling di lantai, menangis. Song Yi menatap Ji Ahn, mengatakan Ji Ahn selalu saja seperti itu, egois.

Ji Ahn menangis lebih keras.

Tapi aku tidak berani mengatakannya. Aku takut aku harus bertanggung jawab dan karena sikap pengecutku itu, hari ini aku menangis. – Ji Ahn

Hoon merasa Ji Ahn pasti sudah gila. Ga In tidak sependapat, ia berpikir Ji Ahn pasti sedang datang bulan. Tae Oh menggelengkan kepalanya, mereka datang bulan di hari yang sama dan seminggu yang lalu sudah selesai, jadi menurutnya Ji Ahn memang sedang gila. Mereka berempat memandang Ji Ahn khawatir.



=== Bab 11 – Siapapun Yang Kau Cintai Dan Apapun Yang Terjadi ===

Ji Ahn berangkat ke kampus dan teringat kejadian semalam. Ia merasa menyesal dan malu, berharap kejadian semalam cuma mimpi.



Ketika sarapan, Tae Oh menanyakan pendapat Song Yi, menurut Song Yi kenapa Ji Ahn bersikap seperti itu semalam. Song Yi diam saja. Tae Oh memberitahukan bahwa Ji Ahn memiliki perasaan pada gadis teman kerjanya. Tae Oh merasa tempat kerja part time itu benar-benar penuh dengan kejutan, banyak orang yang mengeluhkan bekerja part time karena berat tapi ternyata tempat itu adalah surganya berkencan, bahkan Song Yi sendiri menyukai teman kerjanya.

Song Yi meminta Tae Oh menyelesaikan ceritanya, kenapa Ji Ahn tidak berkencan saja dengan gadis itu. Tae Oh mengatakan gadis yang disukai Ji Ahn itu tidak benar-benar hebat, Ji Ahn tidak ingin berkencan dengan gadis itu tapi tidak mau membiarkan gadis itu berkencan dengan orang lain, jadi Ji Ahn hanya menyukai gadis itu sebesar itu saja. Dan jika cowok itu benar-benar menyukai Song Yi, tidak mungkin dia hanya menggoda Song Yi saja.


Tae Oh mengembangkan hidungnya…
Song Yi terlihat marah dan Tae Oh menanyakan kenapa, tapi Song Yi bilang tidak. Tae Oh mendesak, ia yakin Song Yi marah karena jika Song Yi marah, hidungnya akan mengembang. Song Yi jadi kesal dan memarahi Tae Oh yang cari masalah dengannya.



Hoon dan Ga In juga sarapan bersama, membicarakan kejadian semalam. Menurut Hoon, semalam Tae Oh terlihat oblivious, Song Yi ditolak oleh seseorang dan menangis, tapi ada seorang lagi yang menangis dikaraoke, yaitu Ji Ahn. Hoon bertanya apa Ga In mengerti arti dari kejadian semalam. Ga In menebak Ji Ahn pasti ditolak juga. Hoon mengatai Ga In yang bodoh, menurutnya orang yang ditembak Song Yi semalam adalah Ji Ahn.

Ga In tidak mengerti, lalu kenapa Ji Ahn yang menangis kalau memang Ji Ahn yang menolak Song Yi. Hoon tidak bisa menjawab dan mengajak Ga In berpikir bersama-sama. Tapi Ga In mengatakan tidak usah memikirkan yang tidak penting. Hoon tertawa dan setuju dengan Ga In. Lalu tiba-tiba Ga In memuji Tae Oh yang bersikap keren semalam, membuat wajah Hoon menjadi sedikit kesal dan bertanya apa yang keren dari Tae Oh. “Semuanya”, jawab Ga In singkat sambil tersenyum senang.



Ji Ahn mengurungkan niatnya naik ke bus dan memutuskan menunggu sesaat lagi karena Song Yi belum tiba di halte.





Sementara itu, Song Yi ikut dengan scooter Tae Oh. Sayangnya, bukannya mengantarkannya ke kampus, Tae Oh malah berhenti di depan rumah Se Hyun dan menyuruh Song Yi turun. Song Yi merengek tidak mau, Tae Oh mendorong Song Yi turun dari scooternya. Tae Oh menyapa Se Hyun yang baru keluar dari rumahnya dan kemudian mengusir Song Yi pergi. Song Yi kesal, menghentakkan kakinya dan terpaksa pergi.



Tae Oh, Ji Ahn dan Song Yi mendapat pesan Hoon di grup : Hari ini, Ga In tidak menyebut tentang ayahnya dan kami sarapan berdua saja.

Tae Oh, Song Yi dan Ji Ahn merasa lega, Ji Ahn merasa Ga In pasti semakin lebih baik sekarang.



Kemudian Se Hyun keluar dari gerbang rumahnya dan bertanya kenapa Tae Oh datang ke rumahnya. Tae Oh mengatakan mulai hari ini ia ingin mengantar Se Hyun ke kampus setiap hari karena ia ingin baik pada Se Hyun. Se Hyun tersenyum dan mengatakan ia belum pernah naik scooter. Tae Oh menyuruh Se Hyun naik saja karena ini menyenangkan.





Bus yang lain datang lagi, Song Yi belum juga tiba di halte dan Ji Ahn memutuskan untuk naik. Tidak lama setelah bus berjalan, Song Yi datang dengan berlari-lari mengejar bus, meminta sopirnya untuk berhenti. Bus berhenti dan Song Yi pun dapat naik. Song Yi agak kaget karena melihat Ji Ahn juga ada di dalam bus, ketika Ji Ahn akan menyapanya, Song Yi tidak peduli dan berdiri membelakangi Ji Ahn. Suasana menjadi kaku, dan ketika Song Yi melihat Tae Oh membonceng Se Hyun lewat di samping busnya, ia mendengus kesal.

Tiba-tiba Ji Ahn berdiri dan menarik Song Yi duduk di kursinya. Song Yi kesal dan akan berdiri, tapi Ji Ahn menahan kepala Song Yi, memaksa Song Yi tetap duduk di kursinya tadi. Song Yi menghela nafas, kesal.



Hoon datang ke tempat audisi dan melihat salah satu peserta yang sedang audisi dan memuji peserta itu lebih bagus darinya. Seorang pria yang menilai audisi mendekati Hoon menanyakan apa Hoon juga akan ikut audisi dan siapa nama Hoon. Hoon membenarkan dan mengatakan namanya Choi Hoon. Pria itu mengetahui Hoon sebagai putra Profesor Choi dan mengajak Hoon berbicara di luar ruang audisi.



Di luar, pria itu langsung menyerahkan kertas dan cd, ia memberitahukan bahwa latihan akan dilakukan dua minggu lagi, Hoon tinggal datang ke tempat yang sudah ditentukan. Ia juga berpesan agar Hoon cukup mengingat dialognya saja dan berlatih sesuai dengan vidoe yang ada di dalam cd. Hoon kaget dan bingung, ia mengatakan pada pria itu bahwa ia belum diaudisi. Tapi pria itu menyuruh Hoon berbicara pada orang tua Hoon saja. Hoon mengatakan pria yang diaudisi itu lebih bagus untuk peran itu, tapi pria itu mengatakan Hoon juga akan lebih bagus kalau mau berlatih.



Kemudian pria itu masuk kembali ke ruang audisi sambil mengometari betapa enaknya memiliki orang tua yang punya koneksi bagus. Hoon yang kebingungan menghubungi ibunya, menanyakan apakah mungkin ibunya memberikan uang pada mereka. Hoon mengeluhkan dukungan orang tuanya yang salah. Tapi ibunya beralasan, mereka melakukan itu karena Hoon tidak akan mendapatkan peran utama karena Hoon tidak lulus kuliah. Hoon terdiam.



Hoon mengirimkan pesan di grup, meminta semua teman-temannya datang menemuinya karena saat ini dia sedang sedih.

Ji Ahn : Aku masih ada kelas.

Song Yi : Aku sedang bekerja.

Tae Oh : Aku sibuk dengan proyek.

Ga In : Aku sedang memotong rambut pelanggan.

Hoon kesal sendiri dan membanting skripnya, “Baiklah! Ga usah datang semuanya!”.

Lalu Ga In mengirimkan pesan : Dan ayahku ada di rumah. Sepertinya akan sulit ke sana.

Hoon : Ayahmy tidak ada di rumah, Oh Ga In. Keluar.

Ga In terdiam.





Sekarang, semuanya sudah berkumpul di samping Hoon sambil melihat anak-anak bermain di air mancur. Hoon menceritakan bahwa ia mengikuti audisi hari ini. Awalnya teman-temannya bersorak gembira dan bersulang untuk Hoon, tapi mereka ikut bersedih ketika mendengar dari Hoon bahwa itu sebenarnya bukanlah audisi yang sesungguhnya, ia mendapatkan peran itu karena orangtuanya memberi uang kepada mereka. Hoon merasa ini sungguh-sungguh menakutkan. Ada seorang peserta yang mengikuti audisi untuk peran yang sama dan orang itu jauh lebih baik dari dirinya, entah mengapa ia merasa kegagalannya audisi selama ini dikarena oleh orang-orang seperti ibunya.



Ga In bertanya-tanya kenapa orang dewasa melakukan hal seperti ini. Hoon mengajak Ga In untuk tidak hidup seperti itu. Lalu Song Yi mengatakan ia juga merasa crappy, karena orang yang menolaknya malah tetap bersikap baik padanya. Ji Ahn hanya diam saja, tidak berkomentar. “Karena kita semua merasa crappy, apa sebaiknya kita mandi saja?”, tanya Ga In. Tanpa menunggu teman-temannya, Ga In langsung berlari, bermain di air mancur. Song Yi menyusul, Tae Oh dan Ji Ahn pun akhirnya bergabung.



Tae Oh dan Song Yi mengajak Hoon yang masih duduk untuk bergabung.

Song Yi ditolak oleh orang yang ia sukai kemarin, Ji Ahn menangis karena alasan yang tidak kami ketahui, Ga In masih belum bisa menerima kenyataan, Tae Oh masih belum menemukan impian dan cinta yang sebenarnya, aku… aku… hanya tambahan – Hoon

Hoon tersenyum dan berlari, bergabung bersama teman-temannya.



Dimanapun kami, kemanapun kami harus pergi, tidak satupun diantara kami merasa yakin. – Hoon

Kami semua merasa bingung, tapi untungnya kami selalu bersama-sama. – Ga In

Saat ini, walaupun kami tidak mengatakannya, tapi kami semua tau itu. – Song Yi

Siapa pun orang yang kami temui dan siapa pun orang yang kami cintai, apa pun yang terjadi, kami memiliki satu sama lain. – Tae Oh


Setelah puas bermain air, Tae Oh, Song Yi, Ji Ahn, Ga In, dan Hoon pulang dengan basah kuyup dan sambil bernyanyi-nyanyi, lagu patah hati yang dinyanyikan Ji Ahn di karaoke. Hoon mengatakan pada teman-temannya, hari ini ia bertemu seseorang yang mengatakan sangat menyenangkan memiliki orangtua yang punya koneksi kuat, tapi menurutnya yang paling menyenangkan adalah memiliki sahabat-sahabatnya yang selalu mendukungnya. Teman-temannya kesal karena perasaan Hoon itu malah menjadi beban bagi mereka, mereka sudah terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, jadi tidak mau mengurusi Hoon lagi. Hoon tidak percaya, ia yakin teman-temannya itu cuma berpura-pura.



“Kami serius”, sahut teman-teman Hoon bersamaan dan pergi meninggalkan Hoon di belakang. Hoon tertawa, tetap tidak percaya, ia merasa teman-temannya itu manissekali dan kemudian berlari menyusul teman-temannya. Hoon berjalan sambil memeluk pundak Tae Oh, mereka tertawa dan kembali bernyanyi, masih lagu patah hati yang dinyanyikan Ji Ahn di karaoke.





=== 12 – Mungkinkah Orang Itu… ===

Song Yi menjemur underwearnya sambil sesekali melihat ke arah Tae Oh yang sedang menyiram bunga, khawatir Tae Oh akan melihatnya. Tae Oh mendekati Song Yi dan berdiri di belakang Song Yi, membuat Song Yi kaget dan langsung menutup underwearnya. “Apa yang kau lakukan? Apa kau meragukanku? Aku tidak melihatmu sebagai wanita, tau?”, ucap Tae Oh.

“Tapi tetap saja…”.

Tae Oh mengejek Song Yi yang memiliki segalanya serba kecil dan menyuruh Song Yi membersihkan apartemennya. Song Yi menyuruh Tae Oh masuk duluan, tapi Tae Oh malah menyuruh Song Yi masuk lebih dulu. Song Yi tidak bisa membantah dan patuh. Tae Oh melihat Song Yi yang berjalan masuk ke dalam apartemennya dan menggerutu, “Kenapa juga dia menyembunyikan underwearnya? Kayak ada yang bisa dilihat aja…”.





Tapi tidak berapa lama, Tae Oh malah menoleh ke belakang, melihat underwear Song Yi dan sambil tersenyum berkata, “Imutnya…”. Bahkan terdengar lolongan serigala lagi… 😛 . Tae Oh tersadar dan langsung memukul-mukul sendiri wajahnya, lalu kembali meneruskan menyiram bunga. Namun sesaat kemudian, Tae Oh kembali melihat underwear Song Yi, Tae Oh kembali memukul-mukul wajahnya supaya tidak melihat ke belakang.





Akhirnya Tae Oh masuk juga ke dalam apartemen. Song Yi yang sedang mem-vacum lantai apartemen, menyuruh Tae Oh membantunya tapi Tae Oh tidak mau, beralasan ada proyek yang harus ia kerjakan. Tae Oh duduk di meja belajarnya dan membuka laptop, seketika itu juga terdengar suara-suara aneh dari dalam laptop Tae Oh. Song Yi langsung menggoda Tae Oh yang nonton film aneh-aneh.

Tae Oh langsung menutup kembali laptopnya, beralasan video itu untuk referensi proyeknya. Song Yi tidak percaya dan terus menggoda Tae Oh. Tae Oh terpaksa mengaku dia memang menonton itu, memangnya kenapa?, tanyanya. “Itu sebabnya aku menyembunyikan underwearku. Kau tukang ngintip!”, ucap Song Yi.



Tae Oh kesal, menggendong Song Yi di pundaknya dan berputar-putar. Song Yi berteriak-teriak minta diturunkan karena dia jadi pusing. Begitu Tae Oh sudah menurunkannya, Song Yi malah berlari ke arah laptop, mengancam akan menghapus video itu. Tae Oh ikut berlari, menahan laptopnya dan melarang Song Yi melakukan itu. “Kenapa? Kenapa?”, tanya Song Yi tertawa.

“Karena aku harus memohon pada Hoon agar dia memberikan video ini padaku”, sahut Tae Oh kesal. Song Yi berteriak, terus menggoda Tae Oh. Tae Oh kembali mengejar Song Yi dan akhirnya, mereka kejar-kejaran sambil memukuli dengan bantal.



Hoon sedang membantu Ga In membereskan handuk-handuk kecil yang akan dipakai Ga In di salonnya. Hoon bertanya-tanya kemana para pelanggan, kenapa salon Ga In sepi sekali hari ini padahal hari ini hari sabtu.

Dengan tenang, Ga In menjawab sepertinya pelanggannya tidak datang karena mendengar rumor bahwa ia gila. Ga In tahu orang-orang berpikir dia seperti itu. Hoon menjadi salah tingkah, tapi kemudian ia berkata bahwa Ga In tidak gila, ia dan teman-teman yang lain tau itu dan yang dibutuhkan oleh Ga In adalah waktu. Ga In tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Hoon meminta Ga In memberitahukan padanya jika ada orang yang mengatakan Ga In gila karena ia akan menghajar orang itu. Ga In tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Hoon.



Song Yi membersihkan rak buku Tae Oh, sementara Tae Oh sibuk bekerja di depan laptopnya. Tidak sengaja Song Yi menemukan sebuah buku, sepertinya buku kumpulan resep. Song Yi menoleh ke arah Tae Oh dan menghela nafasnya, wajah Song Yi terlihat sedih.





Tae Oh tidak sadar Song Yi sudah tertidur di tempat tidurnya. Tae Oh mendekati Song Yi yang memunggunginya dan bertanya, “Kau tidur?”. Song Yi membalikkan badannya, matanya sudah terpejam. Tae Oh tersenyum, pelan-pelan Tae Oh mengambil buku resep dari tangan Song Yi dan membukanya, wajahnya terlihat sedikit sedih. Tae Oh meletakkan buku itu di rak di dekat tempat tidur dan memperhatikan wajah Song Yi.



Tae Oh mengomentari wajah Song Yi yang terlihat kecil, bahkan hanya sebesar telapak tangannya saja (Tae Oh mengukur wajah Song Yi dengan lebar telapak tangannya) dan juga mengomentari tangan Song Yi yang kecil. “Bagaimana kau terlihat sangat jelek bahkan saat matamu terpejam?”, ucap Tae Oh lagi, agak berbisik.

Tiba-tiba Song Yi menyahut, “Maaf kalau aku memang jelek…”. Tae Oh kaget dan menutupi rasa malunya dengan memarahi Song Yi yang seenaknya saja tidur di tempat tidurnya. Lalu Song Yi menyahut lagi, “Punggungku sakit karena terus tidur di tenda…”. Tae Oh mnertawakan Song Yi yang terlihat lucu karena bisa berbicara sementara matanya masih terpejam. Tae Oh bahkan menggoyang-goyangkan tangannya di depan mata Song Yi. Song Yi tetap tidur.

Tae Oh mendekati Song Yi dan duduk lebih serius. “Apa kau bicara sambil tidur?”.

“Ya. Seperti ayahku…”.



Tae Oh tertawa dan mengatakan, “Imutnya…”. Lalu Tae Oh duduk serius dan bertanya, “Han Song Yi-ssi, saat ini apa yang paling mengkhawatirkanmu?”



Song Yi menghela nafasnya dan menjawab uang kuliah yang harus ia bayar setelah lulus kuliah. Wajah Tae Oh berubah sedih dan khawatir. “Aku tidak yakin apa aku sanggup membayarnya atatau tidak nanti. Dan juga… ibuku…”, Air mata mulai menetes dari mata Song Yi yang terpejam. “Aku sangat merindukan ibuku. Aku harap ia baik-baik saja. Aku tidak ingin ia mengkhawatirkan aku dan Song Ah. Aku harap ibuku baik-baik saja…”. Tae Oh menengadahkan wajahnya, menahan air matanya yang akan jatuh juga.





“Hei, hapuskan air mataku…”, ucap Song Yi lagi. Tae Oh kaget dan mencari-cari tisu, tapi tidak ada. Lalu ia menarik lengan sweaternya dan menghapus air mata Song Yi. Tae Oh menatap Song Yi dan tertawa kecil, lalu ia menutup gorden jendela yang di samping tempat tidur, menghalangi sinar matahari yang akan mengganggu Song Yi tidur.





Tae Oh membayar piza yang ia pesan sambil tertawa-tawa, tiba-tiba terdengar teriakan Song Yi dari dalam. Ternyata Tae Oh iseng menggambari wajah Song Yi jadi mirip kucing. Song Yi kesal sekali, tapi begitu menggigit piza, kesalnya langsung hilang. Begitu melihat ke cermin, kesal Song Yi datang lagi dan ia memarahi Tae Oh. Tae Oh ketawa-tawa saja, tidak merasa bersalah. “Kau berbicara dalam tidur”, beritahu Tae Oh. Song Yi kaget. “Apa kau biasa melakukan itu?”, tanya Tae Oh lagi.

Song Yi membenarkan, seperti ayahnya. Tae Oh mengatakan ia tau, karena tadi Song Yi juga bilang begitu. Song Yi semakin kaget dan bertanya apa lagi yang ia katakan tadi.

“Kau bilang aku cowok paling tampan…”, jawan Tae Oh. :-D. Song Yi kesal, tidak percaya, ia tidak pernah mengatakan itu. Tae Oh menghela nafasnya dan mengambil tisu mengelap tangannya. Song Yi heran, kenapa Tae Oh tidak menghabiskan pizanya. Tae Oh mengatakan ia tidak begitu suka pizza, tapi karena tidak bisa memasak nasi untuk satu orang, itu sebabnya ia memesan piza atau ayam goreng saja.

Song Yi mengajak Tae Oh masak besok, tapi Tae Oh tidak yakin karena Song Yi hanya bisa masak ramen dan kimbab saja. Song Yi menyakinkan Tae Oh bahwa ia akan melakukannya dengan baik. Tae Oh tersenyum, dan kemudian berkata ia senang Song Yi tinggal di tempatnya. “Aku merasa kesepian sebelum kau datang dan aku merasa senang ketika bersamamu”. Song Yi tersenyum tipis, wajahnya terlihat sedikit sedih.



=== Flashback ===

Suatu saat ketika Tae Oh dan Song Yi masih smu. Tae Oh menemani Song Yi membaca di taman. Tapi karena Tae Oh terlihat tidak bisa konsentrasi, Song Yi menyuruhnya pulang. Tae Oh tidak mau dan memberitahukan bahwa hari ini ayahnya menikah lagi dan tidak mengizinkan ia datang, ayahnya bahkan menyuruhnya pindah dan tinggal sendiri. Song Yi kaget dan merasa aneh dengan sikap ayahnya Tae Oh. Tae Oh berkata ia tidak peduli, ia akan berumur 20 tahun dan ia senang tinggal sendiri.

=== Flashback End ===



Song Yi menatap Tae Oh dengan sedih dan khawatir.

“Aku tidak punya teman bicara. Aku tidak bisa masak nasi untuk satu orang dan tidak bisa hanya makan piza dan ayam goreng saja setiap hari…”, ucap Tae Oh. Song Yi mengajak Tae Oh makan nasi, ia yang akan memasakkannya untuk Tae Oh besok.

Tiba-tiba Tae Oh mendapat pesan dari Se Hyun : Kau tau ‘kan kita akan nonton film jam 5 sore nanti?

Tae Oh langsung senang dan memberitahukan Song Yi bahwa ia diterima di klub dan ia resmi akan berkencan hari ini. Song Yi kaget dan bertanya apa Tae Oh hanya akan nonton berdua saja. Wajah Tae Oh langsung lesu dan mengatakan mereka nonton bersama anggota klub yang lain. Song Yi menghela nafasnya, mengeluh karena dirinya harus bekerja lagi.

Seorang staf perpustakaan kaget melihat Ji Ahn yang datang untuk bekerja. Ji Ahn mengatakan Profesor Cha menyuruhnya datang untuk membantu mengatur kembali buku-buku karena ia sudah pernah melakukannya dua kali (Uhm… entah iya atau memang itu cuma alasan Ji Ahn untuk bisa bertemu Song Yi). Staf itu memberitahukan bahwa Song Yi sedang menata dvd di ruang dvd dan berkata sepertinya akan membutuhkan waktu lebih lama dan tidak akan selesai saat jam perpustakaan tutup. Ji Ahn tersenyum dan menenangkan staf itu, ia yakin akan bisa melakukannya.



Tae Oh dan semua anggota klub sudah di bioskop dan mendapatkan tiket. Tae Oh melihat tiket tempat duduknya tidak disamping Se Hyun dan kemudian memeriksa semua tiket sunbaenya. Begitu menemukan tiket yang persis disamping Se Hyun, Tae Oh dengan cueknya minta tukar dan berjanji akan mentraktir popcorn untuk sunbaenya itu. Sunbaenya tidak keberatan dan menukarkan tiketnya dengan tiket Tae Oh. Se Hyun hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Tae Oh yang lucu.



Di dalam bioskop, semua orang nonton dengan serius, sementara Tae Oh tidak. Ia tidak sanggup menahan kantuknya dan beberapa kali tertidur. Berkali-kali Se Hyun melirik Tae Oh dan menertawakan tingkah Tae Oh yang lucu. 😀





Di dalam ruang perpustakaan, Song Yi berkali-kali menghela nafasnya dan sesekali melihat Ji Ahn yang berdiri tidak jauh darinya. Ji Ahn mendekati Song Yi, menanyakan ini itu, yang menurut saya sih sebenernya Ji Ahn sudah tau, tapi ia hanya ingin berbicara dengan Song Yi. Song Yi ingin tau kenapa petugas perpustakaan memanggil Ji Ahn juga. Ji Ahn tidak tau alasannya, menurutnya mungkin profesor menganggapnya lemah dalam membaca huruf cina. Song Yi bertanya bukankah seharusnya Ji Ahn sedang mempersiapkan ujiannya. Ji Ahn tertawa kecil dan menjawab, “Aku tau. Aku dalam masalah”.

Melihat sikap Ji Ahn yang biasa saja, Song Yi bertanya pada Ji Ahn, sepertinya setelah apa yang terjadi di antara mereka, Ji Ahn tetap bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun, benar ‘kan? Ji Ahn terdiam, dan menganggukkan kepalanya lalu kembali ke rak tempat ia bekerja tadi.





“Aku sama sekali tidak bisa bekerja”, gerutu Song Yi sedih. Song Yi kembali menghela nafasnya dan memutuskan berbicara dengan Ji Ahn. Song Yi mendekati Ji Ahn dan bersandar di rak di dekat Ji Ahn, bertanya, “Apa aku jelek?”.

“Tidak. Tidak ada hubungannya dengan itu…”, sahut Ji Ahn.

“Tidak. Aku memang jelek”, ucap Song Yi lagi.

“Siapa yang bilang kau jelek?”.

“Aku tau aku jelek”.

Ji Ahn menghela nafasnya dan berkata, “Tidak…”.

“Lalu apa? Kenapa kau tidak menyukaiku?”. Ji Ahn menatap Song Yi. “Lupakan. Aku sudah benar-benar melupakannya. Tapi… jangan lihat dan tersenyum lagi padaku mulai sekarang. Aku takut aku akan salah paham lagi”.

“Aku mengerti”, sahut Ji Ahn.

“Apanya yang mengerti? Kau tidak tau apa-apa, tidak tau perasaaanku!”, marah Song Yi.

“Baiklah. Aku memang tidak tau apa-apa…”, sahut Ji Ahn lagi.

“Mulai saat ini jangan lakukan apa pun yang tidak aku minta! Kau bahkan tidak menyukaiku”, marah Song Yi lagi.

“Baiklah. Aku tidak akan melakukannya lagi”.



“Lupakan. Sekarang semuanya tidak ada gunanya lagi”, putus Song Yi dan berjalan kembali ke rak tempat ia bekerja tadi dengan lesu.



Ji Ahn dan Song Yi pulang bersama-sama malam itu, tapi di halte mereka berdiri berjauhan. Ketika bus tiba, Ji Ahn masuk terlebih dahulu dan membayar uantuk dua orang. Song Yi yang naik di belakang Ji Ahn jelas kesal karena Ji Ahn lagi-lagi melakukan sesuatu yang tidak ia minta.



Ji Ahn memilih duduk di kursi untuk dua orang dan bergeser ke pinggir jendela, memberi tempat duduk untuk Song Yi. Tapi Song Yi hanya melewati Ji Ahn dan memilih duduk di barisan kursi paling belakang. Ji Ahn hanya bisa menghela nafas, kecewa.



Song Yi menatap Ji Ahn dari belakang, “Aku pikir kau menyukaiku. Kau akan bahagia jika menyukaiku”, keluh Song Yi. Lalu ia melihat keluar jendela bus, kebetulan melintas seseorang dengan sepeda motor, mengingatkannya ketika tadi pagi Tae Oh melewati busnya dengan membonceng Se Hyun. “Seharusnya aku menyukai Yoon Tae Oh”, keluh Song Yi lagi.

Song Yi menghela nafasnya dan kemudian tiba-tiba teringat ucapan Tae Oh ketika di minimarket, saat itu Tae Oh mengatakan ia pernah menyukai seseorang dan ingin membuat orang itu tersenyum, karena orang itu lebih cantik ketika tersenyum. Song Yi teringat ketika Tae Oh membantunya pindahan dulu, saat itu Tae Oh pernah mengatakan bahwa ia lebih cantik jika tersenyum.

“Yoon Tae Oh, mungkinkah orang itu aku?”, tanya Song Yi dalam hati. Song Yi tersenyum tidak yakin. Lalu Song Yi teringat ketika malam mereka makan pizza bersama, saat itu Tae Oh minta ia melakukan sesuatu sehingga Tae Oh tergila-gila padanya, dan juga ketika di depan tenda, ketika Tae Oh bertanya kenapa bukan dirinya. “Apa Tae Oh benar-benar menyukaiku?”, tanya Song Yi lagi dalam hati.



Se Hyun memberikan beberapa dvd pada Tae Oh, menyuruh Tae Oh menontonnya. Tae Oh kaget. Se Hyun menebak itu karena Tae Oh belum pernah menontonnya, dan dengan pedenya menulis produser itu sebagai produser favoritnya di lamaran untuk bergabung di klub. Tae Oh hanya tertawa-tawa saja dan mengucapkan terima kasih atas dvdnya. Se Hyun juga mengucapkan terima kasih karena Tae Oh sudah mengantarnya pulang.

Tae Oh mengatakan sudah satu minggu ia mengantar jemput Se Hyun dan ia yakin setelah satu bulan, Se Hyun akan menyukainya. Se Hyun menyuruh Tae Oh tidak bercanda. Tapi Tae Oh berkata ia tidak bercanda, itu adalah prediksinya, ia bisa meramal apa yang akan terjadi setelah satu bulan nanti.

“Apa yang akan terjadi setelah aku menyukaimu?”, tanya Se Hyun. Tae Oh mengatakan sejak itu kebahagiaan Se Hyun akan dimulai, Se Hyun akan jatuh cinta padanya mulai dari rambut hingga kakinya. 😛

Se Hyun tertawa mendengar ucapan Tae Oh dan masuk ke dalam rumahnya. Sebelum menutup pintu pagar, dengan malu-malu Se Hyun berkata, “Yoon Tae Oh, seandainya… seandainya apa yang kau katakan menjadi kenyataan, itu akan menyenangkan”. Se Hyun cepat-cepat menutup pintu pagar.





Tae Oh terkejut dan senang mendengar ucapan Se Hyun tadi dan berlari mendekati pintu pagar, berbisik, memanggil Se Hyun dari balik pintu pagar. Tae Oh membenarkan ucapan Se Hyun tadi, memang menyenangkan jika mereka bisa berkencan, dan akan lebih menyenangkan lagi jika mereka memulai saat ini juga, bukan bulan depan. Tae Oh tersenyum senang dan pamit pada Se Hyun. Dari balik pagar, Se Hyun senyum-senyum senang mendengar ajakan Tae Oh.





Di dalam bus, Song Yi masih memikirkan kemungkinan Tae Oh menyukainya. Walaupun tidak percaya, tapi ia sedikit merasa yakin, membuatnya senyum-senyum sendiri. Ia merasa jika memang begitu, akan ada cinta segitiga antara teman. Song Yi merasa akan mengerikan jika mereka memperebutkan dirinya. Dan jika mereka merebutkan dirinya, siapa yang akan ia pilih? Song Yi melihat ke arah Ji Ahn dan sadar ternyata Ji Ahn sedang menatapnya. Song Yi langsung terdiam dan menyandarkan kepalanya ke dinding bus dan memejamkan matanya, pura-pura tidur. Song Yi membuka sedikit matanya, mengintip apa yang dilakukan Ji Ahn dan kemudian menutup matanya kembali.

“Tidak. Ji Ahn bilang dia tidak menyukaiku”, ucap Song Yi dalam hati, sedih.



Ji Ahn memutuskan pindah duduk di samping Song Yi. Tanpa mengatakan apa pun, Ji Ahn meraih tangan Song Yi dan menggenggamnya.

“Apa ini?”, ucap Song Yi dalam hati dan membuka matanya. Song Yi menoleh, menatap Ji Ahn dan akan menarik tangannya dari genggaman Ji Ahn. Ji Ahn menahan tangan Song Yi kuat-kuat. Song Yi menatap Ji Ahn, bingung dan Ji Ahn juga menatap Song Yi dan tersenyum…

Bersambung…





Sinopsis Because It’s The First Time Episode 4 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Siti Mar'atun Choiriyah

0 comments:

Post a Comment